Allah Labo ndai Ncauta / Allah always with us

SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR SURAT AR-RAHMAN : 1 - 4



KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt, karena atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul “ Ayat-Ayat Yang Relevan Dengan Subyek Pendidikan”.
            Makalah ini berisikan tentang ayat-ayat dan hadist-hadist yang relevan dengan subyek pendidikan, konsep subyek pendidikan, karakteristik pendidikan. Diharapkan, makalah ini akan memberikan pemahaman kepada kita tentang konsep kependidikan dalam islam.
            Walaupun kami telah mencurahkan segala kemampuan kami dalam penulisan makalah ini. Kami menyadari bahwa, penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi, penulisan, maupun kata-kata yang digunakan. Oleh sebab itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan.
            Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah Swt senantiasa meridhoi segala usaha kita.




DATAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................    i
DATAR ISI........................................................................................................   ii
BAB I      SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR SURAT AR-RAHMAN : 1 - 4.........................................................................   1
A.    Surat Ar-Rahman : 1 - 4..............................................................   1
B.     Tafsir Surat Ar-Rahman : 1 - 4....................................................   1
C.     Subjek Pendidikan Menurut Surat Ar-Rahman Ayat 1 – 4.........   2
1.      Ar-Rahman...........................................................................   2
2.      ‘Allamal Qur’an....................................................................  4
3.      Kholakol Insan......................................................................  5
4.      ‘Allamahul Bayan.................................................................  6
BAB II    SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR SURAT AN-NAJM : 5-6..................................................................................  9
A.       Surat An-Najm Ayat 5 – 6...........................................................  9
B.       Tafsir Surat An-Najm 5 – 6.........................................................  9
BAB III   SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR SURAT AN-NAHL : 43 – 44..........................................................................   13
A.    Surat An-Nahl : 43-44................................................................   13
1.      Arti Kosa Kata....................................................................    13
2.      Penjelasan Tafsir Ayat........................................................    14
B.     Hadist Yang Relevan Dengan Subyek Pendidikan....................    18
C.     Keutamaan Majlis Ilmu..............................................................    20
D.    Pelajaran Ayat Dan Kaitannya Dengan Subyek Pendidikan......    21
BAB IV SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR SURAT AL-KAHFI : 66.................................................................................    24
BAB V    SIMPULAN.......................................................................................    28

DATAR PUSTAKA.........................................................................................    30


BAB I
SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF
TAFSIR SURAT AR-RAHMAN : 1 - 4

A.      Surat Ar-Rahman : 1 - 4
                ﴾٤﴿  عَلَّمَهُالْبَيَانَ  ﴾٣﴿  خَلَقَالْإِنسَانَ  ﴾٢﴿  عَلَّمَالْقُرْآنَ  ﴾١﴿  الرَّحْمَنُ
(1) Allah yang maha pemurah.  (2) Yang telah mengajarkan Al-Quran.  (3) Dia menciptakan manusia.  (4) Mengajarnya pandai berbicara.
B.       Tafsir Surat Ar-Rahman : 1 - 4
Ayat 1 dan 2 : Pada ayat ini Allah yang maha pemurah menyatakan bahwa Dia telah mengajar Muhammad Al-Quran dan Muhammad telah mengajarkan umatnya. Ayat ini turun sebagai bantahan bagi penduduk Makkah yang mengatakan “Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. 364)
            Oleh karena ayat ini mengungkapan beberapa nikmat Allah atas hambaNya, maka surat ini dimulai dengan menyebut nikmat yang paling besar faedahnya danpaling banyak manfaatnya bagihamba-Nya, yaitu nikmat mengajar Al-Quran. Maka manusia dengan mengikuti ajaran Al-Quran akan berbahagialah di dunia dan di akhirat dan dengan berpegang teguh pada petunjuk-petunjuk-Nya niscaya akan tercapailah tujuan di kedua tempat tersebut. Al-Quran adalah induk kitab-kitab samawi yang diturunkan kepada sebaik-baik makhluk Allah yang berada di bumi ini.
            Ayat 3 dan 4 : Dalam ayat ini Allah menyebutkan nimat kejadian manusia yang menjadi dasar semua persoalan dan pokok segala sesuatu. Sesudah Allah menyatakan nikmat mengajar Al-Quran pada ayat yang lalu, maka pada ayat ini Allah menciptakan jenis makhluk-Nya ini dan diajarka-Nya pandai membicarakan tentang apa yang tergores dalam jiwanya dan apa yang terpikir oleh otaknya, kalaulah tidak mungkin tentu Muhammad tidak akan mengajarkan Al-Quran kepada umatnya.
            Manusia adalah makhluk yang berbudaya, tidak dapat hidup kecuali dengan berjamaah, maka haruslah ada alat komunikasi yang dapat menghubungkan antara dia dengan saudaranya yang menulis kepadanya dari penjuru dunia yang jauh dan dari benua-benua serta dapat memelihara ilmu-ilmu terdahulu untuk dimanfaatkan oleh orang-orang kemudian dan menambah kekurangan-kekurangan yang terdapat dari orang-orang terdahulu.
            Ini adalah suatu anugerah rohaniah yang sangat tinggi nilainya dan tidak ada bandingannya dalam hidup, dari itu nikmat ini didahulukan sebutannya dari nikmat-nikmat yang lain. Pertama-tama dimulai dengan sesuatu yang harus dipelajari, yaitu Al-Quran yang menjamin kebahagiaan, lalu diikuti dengan belajar kemudian ketiga cara dan metode belajar, dan seteusrnya berpindah kepada membacakan benda-benda angkasa yang diambi manfaat darinya.[1]
C.     Subjek Pendidikan Menurut Surat Ar-Rahman Ayat 1 – 4
1.       Ar-Rahman
Ar-Rahman adalah salah satu dari sekian banyak sifat Allah, yang mengandung makna pengasih kepada seluruh makhluknya didunia tanpa terkecuali, baik makhluk yang taat ataupun yang mengingkarinya, bahkan kepada iblispun Allah masih “sayang”. Ayat pertama ini kaitannya dengan pendidikan adalah seorang pendidik atau guru harus mempersiapkan dirinya dengan sifat rahman, yaitu mempunyai sifat kasih sayang kepada seluruh peserta didik atau murid tanpa pandang bulu, baik kepada murid yang pintar, bodoh, rajin, malas, baik ataupun nakal. [2] Dan semua yang disebutkan di atas masuk dalam kategori kode etik yang harus dimiliki seorang pendidik. Menurut Al-Gazhali, ada 17 kode etik yang diperankan pendidik diantaranya :
a.       Menerima segala problem peserta didik dengan hati dan sikap yang terbuka dan tabah
b.      Bersifat lemah lembut dalam menghadapi peserta didik yang tingkat IQ-nya rendah, serta membinanya sampai pada taraf maksimal,
c.       Meninggalkan sifat marah dalam menghadapi problem peserta didik,
d.      Memperbaiki sikap peserta didik, dan lemah lembut terhadap peserta didik yang kurang lancar berbicara,
e.       Meninggalkan sifat yang menakutkan bagi peserta didik, terutama pada peserta didik yang belum mengerti atau mengetahui,
f.       Berusaha memperhatikan pertanyaan-pertanyaan peserta didik walaupun pertanyaannya terkesan tidak bermutu atau tidak sesuai dengan masalah yang diajarkan.
g.      Menjadikan kebenaran sebagai acuan dalam proses pendidikan, walaupun kebenaran itu datangnya dari peserta didik,
h.      Menerima kebenaran yang diajukan peserta didik.[3]

Dalam diri seorang pendidik, terhimpun sifat-sifat baik yang sepatutnya dimiliki manusia. Sifat-sifat baik itu merupakan dasar sikap dan tingkah laku yang patut diteladani subyek (anak) didiknya sebagai orang-orang yang dipimpinnya. Karena sungguh, sebagai pemimpin maka Allah akan memintai pertanggung jawaban dari apa yang dipimpinnya, Rasulullah Saw bersabda :
                                                       كلّكم راع وكلّكم مسؤول عن رعيّته
Artinya :
Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya.
Ilmu yang ditransfer dan diterapkan dengan dasar kasih sayang akan besar efeknya kepada murid, terutama dalam penyerapan ilmu yang ditransfer dan diinternalisasikan.
Dimulainya surah ini dengan kata ar-Rahman bertujuan mengundang rasa ingin tahu mereka dengan harapan akan tergugah untuk mengakui nikmat-nikmat dan beriman kepada Allah.

2.       ‘Allamal Qur’an
Al-quran adalah kalamullah atau firman Allah, bukan ucapan Nabi atau manusia lainnya. Tidak ada sepatah katapun ucapan Nabi dalam Al-quran. Pada saat Al-quran diturunkan, Nabi melarang para sahabatnya untuk menghafal atau mencatat, apalagi mengumpulkan ucapannya. Beliau hanya menyuruh untuk menghafal dan mencatat Al-quran. Hal ini semata-mata untuk menjaga kemurnian firma Allah.[4] Sedangkan Syekh Ali Ash-Shabuni mengatakan, Al-quran adalah kalam Allah yang mu’jiz, diturunkan kepada Nabi dan Rasul penghabisan dengan perantaraan Malaikat terpercaya, Jibril, tertulis dalam mushhaf yang dinukilkan kepada kita secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, yang dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.[5] Al-quran merupakan sumber utama dalam pendidikan islam. Menurut Drs. Ahmad D Marimba dalam bukunya “Pengantar Filsafat Pendidikan Islam” menuliskan : Apakah dasar pendidikan Islam? Singkat dan tegas ialah firman Allah dan sunnah Rasulullah. Kalau pendidikan diibaratkan bangunan, maka isi Al-quran dan hadislah yang menjadi fundamennya.[6]
Al-quran dijadikan sebagai sumber pendidikan Islam yang pertama dan utama karena Al-quran memiliki nilai absolut yang diturunkan dari Tuhan. Allah Swt menciptakan manusia dan Allah pula yang mendidik manusia, yang mana isi pendidikan itu telah termaktub dalam wahyu-wahyu Nya. Tidak satu persoalanpun, termasuk soal pendidikan, yang luput dari jangkauan Al-quran.[7]
Maka benarlah sabda Rasulullah Saw mengenai Al-quran, yang Artinya : “Dari Ustman r.a, Rasulullah Saw bersabda, “ Sebaik-baik kamu adalah orang yang berlajar Al-quran dan mengajarkannya”
Al-quran adalah inti agama. Menjaga dan menyebarkannya berarti menegakkan agama, sehingga sangat jelas keutamaan mempelajari dan mengajarkannya, walaupun bentuknya berbeda-beda. Yang paling sempurna adalah mempelajarinya, dan akan lebih sempurna lagi jika mengetahui maksud dan kandungannya.[8]
Karena begitu pentingnya kedudukan Al-quran, maka Allah Ar-Rahman langsung yang mengajarkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad.
Mengajarkan Al-qur’an. Ini menunjukan bahwa seorang guru harus terlebih dahulu mempersiapkan Al-qur’an, dalam konteks ini Al-qur’an diterjemahkan dengan materi pelajaran. Sebelum guru berada dihadapan siswa, guru harus terlebih dahulu mempersiapkan dalam artian menguasai, memahami materi yang akan disampaikan kepada siswa, baik materi pokok yang merupakan keahliannya maupun materi penunjang diluar keahliannya. Guru yang hanya menguasai bahan pokok akan melahirkan kegiatan belajar mengajar yang kaku.[9]

3.       Kholakol Insan
Manusia adalah makhluk yang mungkin, dapat dan harus dididik, sesuai dengan hakekatnya sebagai makhluk ciptaan Allah Swt, yang hidup sebagai satu diri (individu) dalam kebersamaan (sosialitas) dalam masyarakat, dan karena memiliki kemungkinan tumbuh dan berkembang, di dalam keterbatasannya sebagai manusia. Pendidikan menjadi keharusan bagi manusia, karena empat fakta yang dihadapinya dalam kehidupan. Manusia hanya akan menjadi manusia karena pendidikan. Mendidik berarti memanusiakan. [10]
Dalam pendidikan Islam, pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik (subyek didik), baik potensi efektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa). Pendidik berarti juga orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan kepada peserta didik dalam perkembangan jasmani dan ruhaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba Allah dan khalifah Allah dan mampu melakukan tugas sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk individu yang mandiri.[11]
Khalakol Insan (Menciptakan Manusia). Menilik tujuan utama dari pendidikan adalah mencetak manusia yang sempurna, yang berilmu, berakhlak dan beradab. Tentu tidak ada manusia yang sempurna, namun berusaha menjadi manusia yang sempurana adalah suatu kewajiban. Seorang guru apapun materi yang ia ajarkan hendaknya mengarahkan siswanya menjadi manusia yang berilmu, beradab dan bermartabat yang berujung kepada ketaqwaan kepada Yang Maha Esa, seorang guru bukan hanya mengarahkan pada aspek prestasi saja. Menurut Imam Al-Ghazali, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membimbing hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.[12]

4.       ‘Allamahul Bayan
‘Allamahul Bayan (mengajarnya pandai berbicara). Al-Hasan berkata: "Kata al-Bayan berarti berbicara. Karena siyaq berada dalam pengajaran Al-Quran oleh Allah Ta'ala yaitu cara membacanya. Dan hal itu berlangsung dengan cara memudahkan pengucapan artikulasi, serta memudahkan keluarnya huruf melalui jalannya masing-masing dari tenggorokan, lidah dan dua buah bibir sesuai dengan keragaman artikulasi dan jenis hurufnya.
Ayat ini kaitannya dengan proses pendidikan adalah seorang guru apapun pelajaran yang disampaikan, sampaikanlah dengan sejelas-jelasnya, sampai pada tahap seorang siswa (subyek didik) benar-benar faham. AI-Bayan berarti jelas. Namun ia tidak terbatas pada ucapan, tetapi mencakup segala bentuk ekspresi, termasuk seni dan raut muka.
Suatu hal yang juga sangat perlu diperhatikan oleh seorang pendidik (guru) dalam mengajar, membimbing, dan melatih muridnya adalah “kebutuhan dan kode etik murid”
Al-Qussy Membagi kebutuhan manusia (subyek didik) dalam dua kebutuhan pokok, yaitu :
a.       Kebutuhan primer, yaitu kebutuhan jasmani seperti makan, minum, seks, dan sebagainya.
b.      Kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan ruhaniah.[13]
Sedangkan Al-Ghazali merumuskan sebelas pokok kode etik peserta didik, diantaranya adalah :
a.       Belajar dengan niat ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik dituntut untuk selalu menyucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela.
b.      Bersikap tawadhu’ (rendah hati) dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidiknya.
c.       Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga peserta didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.
d.      Peserta didik harus tunduk pada nasihat pendidik sebagaimana tunduknya orang sakit terhadap dokter.[14]
PERMASALAHAN PENDIDIKAN DAN SOLUSINYA
            Pertama: Di dalam proses belajar-mengajar, pendidik dituntut untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, jika tidak maka tujuan dari pendidikan tidak akan tercapai karena waktu yang diberikan dalam pendidikan formal itu terbatas, misalnya saja mata pelajaran agama Islam dalan pendidikan formal. Hanya dua-tiga jam saja dalam seminggu, kalau dipikir dengan waktu yang begitu sedikit maka tujuan pendidikan agama Islam tersebut tidak akan tercapai.
            Untuk mengatasi masalah ini, maka seorang pendidik haruslah mampu memanfaatkan waktunya yang begitu singkat tersebut, salah satu solusi untuk seorang pendidik mengenai masalah ini adalah pembuatan RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran). Dengan pembuatan RPP seorang pendidik akan mampu mengatasi masalah waktu yang begitu singkat tersebut.
            Kedua:  Pendidikan kontemporer mengalami kemunduran, tawuran antara pelajar sudah menjadi hal yang biasa, belum lagi perilaku pelajar maupun pendidik yang melakukan hubungan perzinahan. Perilaku maupun karakter yang positif (baik) sudah seimbang dengan perilaku negatif (buruk), baik itu dari pihak pelajar maupun pendidik. Sehingga hal ini menjadi PR bagi kita supaya pelajar maupun pendidik dalam kesehariannya selalu menunjukkan sifat-sifat maupun karakter-karakter yang baik.
            Untuk membentuk karakter yang baik, itu tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu singkat, karena karakter itu muncul dari kebiasaan. Artinya, dalam keseharian kita tanamkan kepada diri kita sebagai pendidik dan kepada peserta didik agar selalu membiasakan diri untuk bersikap positif lewat kegiatan-kegiatan yang positif pula. Karena dengan demikian, akan terlahirlah karakter baik dan bersifat positif dari pendidik dan peserta didik.

BAB  II
SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF
TAFSIR SURAT AN-NAJM : 5 - 6

A.   Surat An-Najm Ayat 5 - 6
عامه شديد القوى
ذومرة فاستوى
Artinya: “Ia diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat, pemilik potensi yang sangat hebat, lalu dia tampil sempurna.”
B.     Tafsir Surat An-Najm : 5 - 6
Setelah ayat lalu menjelaskan bahwa apa yang diucapkan Nabi Muhammad Saw. adalah wahyu, kini dijelaskan siapa yang menyampaikannya kepada beliau. Allah berfirman bahwa: Ia, yakni wahyu yang diterimanya itu, di ajarkan kepadanya, yakni kepada Nabi Muhammad Saw., oleh malaikat Jibril yang sangat kuat, pemilik potensi akliah yang sangat hebat; lalu dia, yakni malaikat Jibril itu, tampil sempurna dengan menampakkan rupa yang asli. Sedang dia, yakni Malaikat Jibril itu, berada di ufuk langit yang tinggi berhadapan dengan orang-orang yang menengadahkan kepadanya.
Kata ‘Allamahu atau yang diajarkan kepadanya bukan berarti bahwa wahyu tersebut bersumber dari malaikat Jibril. Seorang yang mengajar tidak mutlak mengajarkan sesuatu yang bersumber dari sang pengajar.[15]
Kata mirrah terambil dari kalimat amrartu al-habla yang berarti melilitkan tali guna menguatkan sesuatu. Kata dzu mirrah digunakan untuk menggambarkan kekuatan nalar dan tingginya kemampuan seseorang. Al-Biqa’i memahaminya dalam arti ketegasan dan kekuatan yang luar biasa untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya tanpa sedikit pun mengarah kepada tugas selainnya disertai dengan penuh keikhlasan. Ada juga yang memahaminya dalam arti kekuatan fisik, akal dan nalar.[16] Penjelasan lain dari kata Dzu mirrah adalah yang mempunyai kecerdasan akal. Sifat Jibril yang pertama menggambarkan tentang betapa kuat pikiran dan betapa nyata pengaruh-pengaruhnya yang mengagumkan. Kesimpulannya, bahwa Jibril memiliki kekuatan-kekuatan pikiran,dan kekuatan-kekuatan tubuh. Sebagaimana telah diriwayatkan bahwa ia pernah mencukil kaum luth dari laut hitam yang waktu itu berada dibawah tanah, lalu memanggulnya pada kedua sayap dan diangkatnya dari negeri itu ke langit, kemudian dibalikkan. Pernah pula ia berteriak kepada kaum Tsamud, sehingga mereka meti semua.[17]
Ayat tersebut merupakan jawaban dari perkataan mereka yang mengatakan bahwa Muhammad itu hanyalah tukang dongeng yang mendongengkan dongeng-dongengan(legenda-legenda orang terdahulu). [18]
Penjelasan lain tentang wahyu yang diterima nabi Muhammad Saw.adalah bahwasannya yang mengajarkan wahyu itu kepada beliau adalah makhluk yang sangat kuat. Ibnu katsir dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan yang sangat kuat itu adalah malaikat Jibril.
“Yang mempunyai keteguhan”(pangkal ayat 6), Mujahid, Al-Hasan dan Ibnu Zaid memberi arti: “yang mempunyai keteguhan”. Ibnu Abbas memberi arti: “yang mempunyai rupa yang elok”. Qatadah memberi arti: “yang mempunyai bentuk badan yang tinggi bagus.” Ibnu katsir ketika memberi arti berkata: “tidak ada perbedaan dalam arti yang dikemukakan itu. Karena malaikat Jibril itu memeng bagus dipandang mata dan mempunyai kekuatan luar biasa. Lanjutan ayat ialah: fastawa, yang artinya: yang menampakkan diri yang asli.”(ujung ayat 6)
Menurut riwayat dari Ibnu Abi Hatim yang diterimanya dari Abdullah bin Mas’ud, bahwasannya raulullah itu melihat rupanya yang asli itu dua kali. Yang pertama adalah ketika Rasulullah Saw.meminta kepada Jibril supaya sudi memperlihatkan diri menurut rupanya yang asli. Lalu kelihatanlah dia dalam keasliannya itu memenuhi ufuk. Yang kedua adalah ketika dia memperlihatkan diri dalam keadaannya yang asli itu, ketia Jibril akan menemani beliau pergi Isra’ dan Mi’raj. Dalam pernyataan diri dari keasliannya itu, Nabi melihatnya dengan sayap yang sangat banyak, yakni 600 sayap. [19]
Kaitannya dengan judul makalah kami yakni subyek pendidikan, yang dimaksud pengajar atau yang menjadi subyek disini adalah Malaikat Jibril, bukan berarti bahwa wahyu tersebut bersumber dari Malaikat Jibril. Seseorang yang mengajar tidak mutlak mengajarkan sesuatu yang bersumber dari sang pengajar. Bukankah kita mengajar seorang anak membaca, padahal bacaan itu juga bukan merupakan karya kita? Menyampaikan sesuatu secara baik dan benar adalahsatu bentuk pengajaran. Malaikat menerima wahu dari Allah dengan tugas menyampaikannya secara baik dan benar kepada Nabi Muhammad Saw., dan itulah yang dimaksud pengajaran disini.
Sedangkan jika dikaitkan dengan pengajar atau pendidik yakni seorang guru, maka dapat di ambil beberapa kriteria guru yakni diantaranya adalah seorang guru itu harus mempunyai kekuatan, baik kekuatan secara jasmani maupun rohani. Kekuatan jasmani yakni berupa totalitas dalam mengajar, penampilan dan perilaku yang baik,karena perilaku kita akan dijadikan cerminan oleh murid-murid kita.
Sedangkan yang dimaksud dengan kekuatan rohani yakni cerdas aqliyah maupun fi’liyah, kesungguhan dalam menyampaikan mata pelajaran kepada anak didik, serta kesabaran dalam mendidik dan menanamkan akhlakul karimah kepada peserta didik.

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DAN SOLUSINYA
Seorang pendidik merupakan cermin bagi pelajar, pelajar sedikit tidak akan mengikuti karakter dan sifat dari seorang pendidik. Sehingga sepantasnya bagi pendidik memberikan tauladan yang baik bagi pelajar, akan tetapi realita yang terjadi dalam dunia pendidikan kontemporer sudah tidak menunjukkan hal tersebut. Pendidik bersaing dengan pelajar dalam berperilaku buruk yang tidak sepantasnya dilakukan bagi seorang pendidik maupun pelajar.
            Karena seorang pendidik merupakan cermin bagi pelajar. Maka seorang pendidik harus melihat dan mengevaluasi kembali segala bentuk sikap khilafnya agar kedepannya bisa diperbaiki. Karena, ketika pendidik mampu melakukannya dan mampu memperbaiki kesalahan ataupun kekhilafannya, maka perilaku pelajarpun sedikit tidak akan berubah dan mengikuti pendidik. Dalam proses belajar-mengajar pendidik menunjukkan kasih sayangnya dalam mengajar, maka pelajarpun akan memunculkan rasa kasih sayang kepada sesama, sehingga tidak ada lagi tawuran antar pelajar dan segala bentuk kekerasan lainnya.













BAB III
SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF
TAFSIR SURAT AN-NAHL : 43-44

A.    SURAT AN-NAHL : 43-44
               
وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلأَ رِجَلآ نٌوْحِيْ اِلَيْهِمْ فَسْئَلُوْا اَهْلَ ألذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ (43)
بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْناَاِلَيْكَ الذِّكْرَلِتُبَيِّنَ للِنَّاسِ مَانُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ(44)

Artinya :
“Dan kami tidak mengutus sebelum kamu kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu pada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kalian tidak mengatahui (43) . Dengan membawa keterangan-keterangan (mu’jizat) dan kitab-kitab dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(44).[1]

1.      ARTI KOSAKATA
رِجالًا : kecuali orang-orang lelaki, bukan malaikat. Ini merupakan bantahan terhadap orang-orang Quraisy yang mengatakan : Allah lebih agung dari pada rasul-Nya seorang manusia.  Dan ini juga merupakan dalil yang tegas kenabian tidak diberikan kecuali kepada orang laki-laki, tidak ada nabi dari kalangan wanita.
أَهْلَ الذِّكْرِ : orang yang mempunyai pengetahuan, yaitu ulama ahlul kitab yang mengetahui taurat dan injil.
إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ : jika kamu tidak mengetahui, yakni jika kamu tidak mengetahui hal itu, karena mereka mengetahuinya, kalian lebih mempercayai mereka dari pada kepercayaan orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw.
بِالْبَيِّناتِ : keterangan-keterangan (mukjizat), yakni kami mengutus  mereka dengan keterangan-keterangan yaitu argumentasi-argumentasi yang  jelas. Al-Bayyinah adalah mukjizat yang menunjukkan kebenaran Rasul.
الزُّبُرِ : kitab-kitab, yakni kitab-kitab syari’at dan kewajiban-kewajiban manusia.
الذِّكْرَ : al-Qur’an. Al-Qur’an dinamakan الذِّكْرَ karena ia merupakan pelajaran dan peringatan.
لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ : agar kamu menerangkan kepada umat manusia, yakni menerangkanrahasia-rahasia syariat. 
ما نُزِّلَ إِلَيْهِمْ :  apa yang telah diturunkan kepada mereka, yaitu al-Qur’an,
وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ : dan supaya mereka memikirkan,

2.      PENJELASAN TAFSIR  AYAT
وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلأَ رِجَلآ نٌوْحِيْ اِلَيْهِمْ  = Tidakkah Kami mengutus para rasul sebelummu kepada umat-umat untuk mengajak mereka agar mentauhidkan Aku dan melaksanakan perintah-Ku, kecuali mereka itu adalah laki-laki dari Bani Adam yang Kami wahyukan kepada mereka, bukan para malaikat. Ayat ini menguraikan kesesatan pandangan mereka menyangkut kerasulan Nabi Muhammad SAW. Dalam penolakan itu mereka selalu berkata bahwa manusia tidak wajar menjadi utusan Allah, atau paling tidak dia harus disertai oleh malaikat.
            Allah SWT menyatakan bahwa Dia tidak mengutus Rasul sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw terkecuali laki-laki yang diutusnya itu diberi wahyu. Ayat ini menggambarkan bahwa Rasul-rasul yang diutus untuk menyampaikan wahyu hanyalah laki-laki dari keturunan Adam as sehingga Muhammad saw diutus untuk membimbing umatnya agar mereka itu beragama tauhid dan mengikuti bimbingan wahyu. Maka yang pantas diutus ialah Rasul-rasul dari jenis mereka dan berbahasa seperti mereka. Pada saat  Rasulullah saw diutus orang-orang Arab menyangkal bahwa Allah tidak mungkin mengutus utusan yang berasal dari manusia seperti mereka, seperti disebutkan dalam firman Allah SWT:
وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا
Dan mereka berkata: "Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?. Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?". (Q.S Al Furqan: 7) [2]

Dan firman-Nya:
أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنْ أَنْذِرِ النَّاسَ وَبَشِّرِ الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالَ الْكَافِرُونَ إِنَّ هَذَا لَسَاحِرٌ مُبِينٌ
Patutkah menjadi keheranan bagi manusia, bahwa kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: "Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka". Orang-orang kafir berkata: "Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar tukang sihir yang nyata". (Q.S Yunus: 2) [3]
              Mengenai penolakan orang-orang Arab pada kerisalahan Muhammad karena ia seorang manusia biasa, dapatlah diikuti sebuah riwayat dari Adh-Dhahhak yang disandarkan kepada Ibnu Abbas bahwa setelah Muhammad saw diangkat menjadi utusan, orang Arablah yang mengingkari kenabiannya, mereka berkata: "Allah SWT lebih Agung bila Rasul Nya itu bukan manusia. Kemudian turun ayat-ayat surah Yunus.
فَسْئَلُوْا اَهْلَ ألذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ  = Maka tanyakanlah kepada ahli kitab dahulu diantara orang-orang Yahudi dan Nasrani, apakah para utusan yang diutus kepada mereka itu manusia ataukah malaikat? Jika mereka itu malaikat silakan kalian ingkari Muhammad SAW tetapi jika mereka itu manusia, jangan kalian ingkari dia.[4]
Sesudah itu Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang musyrik agar bertanya kepada orang-orang Ahli Kitab sebelum kedatangan Muhammad saw, baik kepada orang-orang Yahudi ataupun kepada orang-orang Nasrani. أهل الذكر (Ahli dzikri): Ahli kitab yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah menerima kitab-kitab dan ajaran dari Nabi-nabi terdahulu. Di sini tersebut Ahlu-Dzikr, orang yang ahli peringatan, atau orang yang berpengetahuan lebih luas. Arti umum ayat menyuruhkan orang yang tidak tahu bertanya kepada yang lebih tahu, karena ilmu pengetahuan itu adalah umum sifatnya, berfaedah mencari kebenaran. Menurut yang diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa ahlu-dzikri di sini maksudnya ialah Ahlul-kitab. Sebelum ahlu kitab ini dipengaruhi oleh nafsu ingin menang sendiri, mereka akan mengakui bahwa Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang terdahulu itu semuanya adalah manusia belaka, manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah.
Apakah di dalam kitab-kitab mereka itu disebutkan suatu keterangan bahwa Allah pernah mengutus malaikat kepada mereka. Maka kalau disebutkan di dalam kitab mereka itu bahwa Allah pernah menurunkan malaikat sebagai utusan Allah bolehlah mereka itu mengingkari kerisalahan Muhammad. Akan tetapi apabila yang disebutkan di dalam kitab mereka Allah hanya mengirim utusan kepada mereka manusia yang sejenis dengan mereka maka tidak benarlah apabila orang-orang musyrik itu mengingkari kerisalahan Muhammad saw.
Dengan ayat ini kita mendapat pengertian bahwasannya kita boleh menuntut ilmu kepada ahlinya, dimana saja dan siapa saja, sebab yang kita cari ialah kebenaran.[5]
بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِ  = keterangan-keterangan dan zubur, para rasul yang diutus sebelum itu semua membawa keterangan-keterangan yakni mukjizat-mukjizat nyata yang membuktikan kebenaran mereka sebagai rasul dan sebagian pembawa pula zubur yakni kitab-kitab yang mengandung ketetapan-ketetapan hukum dan nasihat-nasihat yang seharusnya menyentuh hati. Kata Zubur yakni tulisan, yang dimaksud disini adalah Taurat, Injil, Zabur dan Shuhuf Ibrahim as.[6]   Allah SWT menjelaskan bahwa rasul-rasul itu diutus dengan membawa keterangan-keterangan yang membuktikan kebenarannya, yaitu mukjizat dan kita-kitab. Yang dimaksud dengan keterangan di dalam ayat ini ialah dalil-dalil yang membukakan kebenaran kerisalahannya dan di maksud dengan Az Zabur ialah kitab yang mengandung tuntunan hidup dan tata hukum yang diberikan oleh Allah kepada hamba Nya.  
وَأَنْزَلْناَاِلَيْكَ الذِّكْرَلِتُبَيِّنَ للِنَّاسِ مَانُزِّلَ اِلَيْهِمْ = dan Kami turunkan padamu adz-dzikr agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. Kata adz-dzikr disini adalah al Qur’an, dari segi bahasa adalah antonim kata lupa. Al Qur’an dinamai demekian karena ayat-ayatnya berfungsi mengingatkan manusia. Dan Allah SWT menerangkan pula bahwa Dia telah menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw, agar beliau memberikan penjelasan kepada manusia apa saja yang telah diturunkan kepada mereka , yaitu perintah-perintah, larangan-larangan, aturan-aturan hidup lainnya yang harus mereka perhatikan, dan kisah-kisah umat-umat terdahulu agar supaya dijadikan suri tauladan  dalam menempuh kehidupan di dunia.
Pengulangan kata turun dua kali yakni وَأَنْزَلْناَاِلَيْكَ dan مَانُزِّلَ اِلَيْهِمْ  mengisyaratkan perbedaan penurunan yang dimaksud, yang pertama adalah penurunan al Qur’an kepada Nabi Muhammad yang bersifat langsung dari Allah dan dengan redaksi pilihan-Nya sendiri. Sedang yang kedua adalah ditujukan kepada manusia seluruhnya. Juga agar Nabi saw menjelaskan kepada mereka hal-hal yang mereka anggap, yaitu menjelaskan hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an  serta memerinci kandungannya yang bersifat global sesuai dengan kemampuan berpikir dan kepahaman mereka terhadap tujuan-tujuan pembentukan syari’at.
وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ = Supaya mereka berfikir, yakni agar mereka berfikir dan tidak mengikuti jejak para pendusta terdahulu sehingga mereka tidak ditimpa azab seperti yang telah ditimpakan kepada mereka. Allah tidak membinasakan mereka dengan azab yang cepat, akan tetapi dengan keadaan yang menakutkan seperti angin kencang, petir dan gempa. Disini terdapat penangguhan waktu yang mungkin didalamnya terdapat pengabaian, ini adalah salah satu dampak rahmat Allah terhadap hamba-Nya.
                   Di akhir ayat Allah SWT menandaskan agar mereka suka memikirkan kandungan isi Al-Qur’an dengan pemikiran yang jernih baik terhadap prinsip-perinsip hidup yang terkandung di dalamnya, tata aturan yang termuat di dalamnya serta tamsil ibarat yang ada di dalam ayat-ayatnya, agar mereka itu memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat.

B.     HADIST YANG RELEVAN DENGAN SUBYEK PENDIDIKAN     
59 – حدثنا محمد بن سنان قال: حدثنا فليح (ح). وحدثني إبراهيم بن المنذر قال: حدثنا محمد بن فليح قال: حدثني أبي قال: حدثني هلال بن علي، عن عطاء بن يسار، عن أبي هريرة قال:
بينما النبي صلى الله عليه وسلم في مجلس يحدث القوم، جاءه أعرابي فقال: متى الساعة؟. فمضى رسول الله صلى الله عليه وسلم يحدث، فقال بعض القوم: سمع ما قال فكره ما قال. وقال بعضهم: بل لم يسمع. حتى إذ قضى حديثه قال: (أين – أراه – السائل عن الساعة). قال: ها أنا يا رسول الله، قال: (فإذا ضعيت الأمانة فانتظر الساعة). قال: كيف إضاعتها؟ قال: (إذا وسد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة).
Artinya: Muhammad bin Sinan menceritakan kepadaku, beliau berkata, Falih menceritakan kepadaku dan Ibrahim bin Mundzir menceritakan kepadaku, beliau berkata, Muhammad bin Falih menceritakan kepadaku, beliau berkata, Bapakku menceritakan kepadaku, beliau berkata, Hilal bin Ali menceritakan kepadaku dari atho’ bin Yasar dari Abi Hurairah beliau berkata,”pada suatu hari Nabi SAW dalam suatu majlis sedang berbicara dengan sebuah kaum, datanglah kepada beliau orang badui dan bertanya,” kapan kiamat datang?” maka Rasulullah meneruskan pembicaraannya. Maka sebagian kaum berkata,” beliau dengar apa yang diucapkan dan beliau tidak suka apa yang dikatakannya.” Sebagian lagi berkata,” beliau tidak mendengarnya.” Setelah beliau selesai dari pembicaraannya beliau berkata,” dimana orang yang bertanya tentang kiamat?.” Saya ya Rasulullah.” Beliau bersabda,”Ketika amanat disia-siakan maka tunggu saja kedatangan kiamat.” Orang itu bertanya lagi,” Bagaimana menyia-nyiakan amanat?.” Beliau bersabda: Ketika sesuatu perkara diserahkan kepada selain ahlinya maka tunggulah datangnya kiamat ( kehancurannya ).” ( HR. Bukhori bab Barangsiapa ditanyai suatu ilmu sementara dia sedang sibuk berbicara maka selesaikan pembicaraannya lalu jawab pertanyaannya )
Hadis di atas memberikan pelajaran pada kita dua hal, yang pertama kita hendaknya jangan memotong pembicaraan orang lain ketika hendak bertanya tentang suatu ilmu, karena memotong pembicaraan orang lain untuk tujuan apapun tidak dibenarkan sama sekali. Termasuk di dalamnya adalah menginterupsi guru atau dosen yang sedang mengajar dengan sebuah pertanyaan sebelum sang guru / dosen tersebut memberikan waktu khusus untuk bertanya kepadanya. Memotong pembicaraan guru atau dosen termasuk su’ul adab kepada sang guru, dan itu bias mengurangi keberkahan ilmu yang ia dapatkan, yang kedua apabila si penanya telah menyampaikan pertanyaannya sementara kita masih serius dalam pembicaraan maka kita lanjutkan pembicaraan sampai selesai, baru kemudian menjawab pertanyaan yang disampaikan, hal itu dimaksudkan agar tujuan dari pembicaraan tidak terputus.
Disamping itu hadis di atas juga memberikan informasi pada kita tentang profesionalisme kerja, segala sesuatu harus diserahkan kepada yang membidanginya atau orang yang berkompeten terhadapnya. Sebab menyerahkan sesuatu kepada selain ahlinya hanya akan menyebabkan kehancuran semata. Begitu juga dalam pendidikan, kompetensi guru mutlak diperlukan dalam rangka menunjang mutu pendidikan, sebab tanpa ditangani guru yang kompeten maka tujuan pendidikan tidak akan pernah dapat dicapai. Wallahu a’lam. 
 
C.    KEUTAMAAN MAJELIS ILMU
66 – حدثنا إسماعيل قال: حدثني مالك، عن إسحاق بن عبد الله بن أبي طلحة: أن أبا مرة مولى عقيل بن أبي طالب أخبره: عن أبي واقد الليثي:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم بينما هو جالس في المسجد والناس معه، إذ أقبل ثلاثة نفر، فأقبل إثنان إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وذهب واحد، قال: فوقفا على رسول الله صلى الله عليه وسلم، فأما أحدهما: فرأى فرجة في الحلقة فجلس فيها، وأما الآخر: فجلس خلفهم، وأما الثالث فأدبر ذاهبا، فلما فرغ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (ألا أخبركم عن النفر الثلاثة؟ أما أحدهم فأوى إلى الله فآواه الله، وأما الآخر فاستحيا فاستحيا الله منه، وأما الآخر فأعرض فأعرض الله عنه). [462].
Ismail menceritakan kepadaku, beliau berkata, Malik menceritakan kepadaku, dari Ishak bin Abdullah bin Abi Tholhah sesungguhnya Abu Marrah budak dari Aqil bin Abi Thalib memberikan informasi kepadaku Dari Abi Waqid Al Laitsi r.a., dia berkata : “ Pada suatu waktu Rasulullah saw sedang duduk di masjid kemudianh datanglah tiga rombongan manusia, yang dua kelompok menghadap rasulullah saw, sedang yang satunya melihat tempat senggang dalam majelis itu, maka duduklah mereka. Sedangkan yang lain duduk di belakang mereka, sedangkan kelompok ketiga pergi dan berpaling. Setelah itu Rasulullah saw bersabda: “ Adakah belum aku beritahukan kepadamu tentang tiga kelompok manusia tersebut ?. adapun kelompok pertama adalah mencari keridhoan Allah swt, maka Allah ridho pula kepada mereka, adapun yang lainnya mereka malu kepada Allah, maka Allahpun malu kepada mereka. Sedangkan yang satunya lagi mereka berpaling dari keridhoan Allah, maka Allahpun berpaling dari mereka.     (HR. Bukhori, Bab Orang yang duduk ketika sampai kesuatu majelis, dan Orang yang melihat celah dalam halaqoh lalu ia duduk di dalamnya )
Hadis di atas menceritakan tentang keutamaan bermajelis ilmu, bahkan dalam hadis lain Rasulullah mensifati majelis ilmu dengan sebutan Riyadhul Jannah ( taman surga ). Dimanapun kita berada apabila kita lewat atau melihat halaqatul ilmi ( majelis ta’lim ) maka seyogyanya kita berhenti sejenak dan bergabung didalamnya dengan tujuan mencari ridho Allah swt, jika itu kita lakukan maka Allahpun akan Ridho terhadap kita. Subtansi hadis tersebut adalah merangsang para pencari ilmu agar mencintai majelis ta’lim, sekolah, kampus ataupun tempat-tempat ilmu lainnya.
Sekaligus larangan bagi kita untuk berpaling dari majelis ilmu, dengan kata lain bahwa pulang dari kampus ketika ada dosen adalah termasuk dalam kategori orang yang berpaling dari keridhoan Allah. Ketika kita berpaling dari keridhoan Allah maka Allahpun akan berpaling dari kita. Ketika Allah berpaling dari kita, siapa lagi yang kita harapkan akan memberikan pertolongan kepada kita ?. Wallahu a’lam.       
D.    PELAJARAN AYAT DAN KAITANNYA DENGAN SUBYEK PENDIDIKAN

        Pelajaran yang terkandung dalam dua ayat di atas, antara lain :
        1.      Wajib bertanya kepada orang yang berilmu bagi orang yang tidak tahu tentang urusan   agamanya, baik itu masalah akidah, ibadah, maupun hukum.
        2.      As-Sunnah merupakan kebutuhan mutlak, karena as-Sunnah menjelaskan secara rinci kandungan al-Qur’an yang bersifat global dan menjelaskan makna-maknanya. 

        Kaitannya dengan subyek pendidikan adalah bahwa orang-orang yang berilmu dan Rasulullah saw adalah sebagai pelaku pendidikan. Orang-orang yang berilmu harus menjawab pertanyaan orang-orang yang bertanya tentang urusan agamanya, baik dalam masalah akidah, ibadah maupun masalah hukum. Juga Rasulullah saw menjelaskan secara rinci kandungan al-Qur’an yang bersifat global, dan menerangkan makna-maknanya.
    
Dalam proses pendidikan diperlukan subyek atau pelaku pendidikan, subyek ini bisa berupa pendidik (yang memberikan pengajaran atau pendidikan) dan peserta didik (yang mendapat pengajaran atau pendidikan). Seperti terdapat dalam ayat diatas, Nabi Muhammad mendapat pelajaran dari Allah dan menyampaikan kepada umatnya, dalam hal ini posisi Nabi Muhammad sebagai peserta didik dan juga sebagai pendidik karena Nabi menerima pelajaran sekaligus juga menyampaikan dan mengajarkannya kepada umatnya. Selain itu kita juga diperintahkan untuk bertanya kepada orang lain tentang sesuatu yang belum diketahui, walaupun orang tersebut tidak beragama Islam selama itu dilakukan demi kebenaran.
Pendidik dan peserta didik sangat erat hubungannya, karena tanpa salah satu dari mereka maka proses pendidikan tidak akan berjalan. Dengan adanya proses pendidikan diharapkan siswa menangkap materi yang disampaikan oleh pendidik dengan baik dan mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan dalam kesehariannya.
           Untuk menjadi seorang pendidik yang baik maka harus mempunyai sifat-sifat seperti : Kasih sayang kepada peserta didik, lemah lembut, rendah hati, adil, konsekuen, perkataan sesuai dengan perbuatan, sederhana, dan menghormati ilmu yang bukan pegangannya.[7] Begitu pula sebaliknya seorang peserta didik juga harus mempunyai sikap tawadhu’, ulet, sabar dan tekun dalam menuntut ilmu.

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DAN SOLUSINYA
            Ada pepatah yang berbunyi “malu bertanya sesat dijalan”, pepatah ini sedikit tidak telah terjadi dalam pendidikan zaman sekarang. Kebanyakan orang malu ataupun enggan untuk bertanya mengenai masalah yang dihadapinya, lebih memilih bertindak tanpa dasar dari pada harus bertanya mengenai permasalahannya. Efeknya adalah kesesatanlah yang terjadi, beribadah tanpa berilmu, bertindak tanpa tahu sebab dan akibatnya.
            Jika melihat dari efek yang begitu dahsyat tersebut, maka haruslah ditata kembali semangat belajar-mengajar kepada pendidik maupun peserta didik. Ketika pelajar tidak memahami hal yang diajarkan, maka bertanyalah agar tidak tersesat (bingung). Begitu pula pendidik, ketika ditanya dan tidak tahu mengenai pertanyaan tersebut, maka diundurlah untuk menjawabnya agar bisa mencari tahu jawaban dari yang ditanyakan, tidak langsung asal menjawab tanpa ada dasarnya.


















BAB IV
SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF
TAFSIR SURAT AL-KAHFI :  66

Secara filosofi, pendidikan merupakan sebuah sistem yang memiliki aspek-aspek yang saling berhubungan, menurut A.D. Marimba (1989: 19-65), pendidikan adalah proses membimbing atau memimpin yang dilakukan secara sadar oleh pendidik untuk mengembangkan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Dalam proses membimbing atau memimpin tersirat dua pihak yang saling berhubungan, yaitu pendidik dan peserta didik. Selain itu, agar usaha dalam proses tersebut dapat mencapai tujuan pendidik, maka diperlukan landasan / dasar yang jelas serta alat dan badan / lembaga penyelenggaran pendidikan. Dengan demikian pendidikan terdiri dari beberapa aspek, yaitu : peserta didik, pendidik, dasar, tujuan, alat dan badan / lembaga pendidikan.
Berdasarkan keterangan tersebut, pendidik merupakan salah satu bagian integral dari sistem pendidikan. Pendidik atau yang layak disebut subyek pendidikan adalah orang yang terlibat secara langsung dan kontinyu dalam proses pendidikan. Dalam dunia pendidikan, yang lazim disebut pendidik adalah orang tua, guru dan para pemimpin (tokoh) masyarakat atau orang-orang yang telah dewasa. Orang tua berperan sebagai pendidik di lingkungan rumah tangga, guru sebagai pendidik di lingkungan sekolah. Walaupun peranan para pendidik ini berbeda tempatnya, tetapi tidak berarti mereka bekerja sendiri-sendiri. Semuanya harus dapat memainkan perannya masing-masing secara bertanggung jawab dalam kerangka kerjasama yang harmonis dan saling mendukung agar peserta didik memiliki kepribadian yang sempurna.
            Musa berkata kepada Khidhr:` Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? `(QS. 18:66)
:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul:: Surah Al Kahfi 66
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Dalam ayat ini Allah menyatakan maksud Nabi Musa as datang kepada Al Khidir, yaitu untuk berguru kepadanya. Nabi Musa memberi salam kepada Al Khidir berkata kepadanya: "Saya adalah Musa". Al Khidir bertanya: "Musa dari Bani Israel?" Musa menjawab: "Ya, benar! Maka Al Khidir memberi hormat kepadanya seraya berkata: "Apa keperluanmu datang kemari?" Nabi Musa menjawab, bahwa beliau datang kepadanya supaya diperkenankan mengikutinya dengan maksud supaya Al Khidir mau mengajarkan kepadanya sebagian ilmu yang telah Allah ajarkan kepada Al Khidir itu, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.
Dalam ayat ini Allah menggambarkan secara jelas sikap Nabi Musa sebagai calon murid kepada calon gurunya dengan mengajukan permintaan berupa bentuk pertanyaan itu berarti Nabi Musa sangat menjaga kesopanan dan mohon diperkenankan mengikutinya, supaya Al Khidir sudi mengajarkan sebagian ilmu yang telah Allah berikan kepadanya.
Sikap yang demikian menurut Al Qadi, memang seharusnya dimiliki oleh setiap pelajar      dalam mengajukan pertanyaan kepada gurunya.  
Keterangan-keterangan ini menunjukkan bahwa interaksi yang terjadi antara guru dan murid, harus berlangsung dalam suasana yang saling menghargai / menghormati. Sikap ini ditunjukkan oleh Nabi Musa belajar kepada Nabi Khidr a.s. sementara Nabi Musa a.s mempersilakan Nabi Musa a.s untuk ikut belajar dengannya. Sikap Nabi Musa a.s, ini merupakan cerminan kesopanan yang harus dilakukan oleh seorang peserta didik kepada gurunya. Sedangkan sikap Nabi Khidr a.s merupakan cerminan dari kesabaran dan sikap lapang dada dalam memberikan bimbingan / pengajaran.
            Dengan demikian, seorang mendidik harus memiliki kompetensi dan kepribadian yang luhur dalam proses pembelajaran, diantaranya ada lah dengan memiliki sikap sabar dalam menghadapi prilaku peserta didiknya. Jika sikap seperti ini dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, maka akan tercapai suasana yang kondusif terhadap upaya memperoleh hasil belajar yang berkualitas baik, salah satunya dengan menerapkan model pembelajara “PAKEM” (pembelajaran aktif, kreatif, efektif         danmenyenangkan).
           Ayat ke-66 ini menjelaskan bahwa ucapan Nabi Musa as. terhadap Nabi Khidir as. adalah ucapan yang lemah lembut (tanpa paksaan). Oleh karena itu wajib bagi seorang muta’allim (pelajar) apabila menanyakan sesuatu hal kepada mua’llim (guru) dengan ucapan yang lemah lembut. Kata attabi’uka ialah mengikuti dengan sungguh-sungguh.
            Pada ayat ke-67 ini sebagai jawaban Nabi Khidir as. bahwa Nabi Musa as. tidak akan sanggup mengikuti Nabi Khidir as. dengan alasan sudut pandang keilmuan yang berbeda. Nabi Khidir as. diberi ilmu yang sifatnya batiniyah (dalam) sedangkan Nabi
            Ayat 68 ini menegaskan kepada Nabi Musa as. tentang sebab Nabi Musa tidak akan bersabar nantinya kalau terus menerus menyertainya. Nabi Musa as. akan melihat kenyataan pekerjaan Nabi Khidir as. yang secara lahiriyah bertentangan dengan syariat Nabi Musa as. sehingga Nabi Musa as. mengingkarinya karena menganggap hal yang mustahil. Sedangkan secara batiniyah tidak mengetahui hikmahnya atau kemaslahatannya .
           Nabi Musa as. berjanji tidak akan mengingkari dan tidak akan menyalahi apa yang dikerjakan oleh Nabi Khidir, dan berjanji pula akan melaksanakan perintah Nabi Khidir selama perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah swt.
Selanjutnya dalam ayat 70 : Nabi Khidir as. dapat menerima Nabi Musa as. dengan syarat: “Jika kamu (Nabi Musa) berjalan bersamaku, maka janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang aku lakukan dan tentang rahasianya, sehingga aku sendiri menerangkan kepadamu duduk persoalannya. Jangan kamu menegurku terhadap sesuatu perbuatan yang tidak dapat kau benarkan hingga aku sendiri yang mulai menyebutnya       untuk   menerangkan             keadaan yang sebenarnya.

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DAN SOLUSINYA
Pelajaran berharga kita dapatkan lewat kisah nabi Khidir dan nabi Musa yang bisa kita jadikan acuan dalam proses belajar-mengajar. Nabi Musa ketika meminta untuk mengikuti dan belajar kepada nabi Khidir lewat pertanyaan, nabi Musa bertanya kepada nabi Khidir dengan kata-kata yang begitu halusnya dan nabi Khidirpun memberikan jawaban dengan jawaban yang halus pula.
Pendidikan masa kini kebanyakan tidak memperhatikan hal ini, pelajar bertanya kepada pendidik dengan kata-kata yang semaunya dan pendidikpun menjawab dengan jawaban yang seadanya. Maka disini perlulah bagi pendidik dan pelajar agar memperhatikan kisah nabi Khidir dan nabi Musa dalam proses belajar-mengajarnya.











BAB V
SIMPULAN
Dari uraian surat-surat diatas, dapat kami simpulkan beberapa hal yang berkaitan dengan subjek pendidikan.
Surat Ar-Rahman ayat 1 – 4 :
1.      Kata Ar-Rahman menunjukkan sifat-sifat pendidik adalah murah hati, penyayang dan lemah lembut, santun dan berakhlak mulia khususnya kepada peserta didik dan kepada masyarakat pada umumnya.
2.      Al-Quran merupakan sumber pendidikan Islam yang pertama dan utama, karena Al-Quran memiliki nilai absolut yang diturunkan dari Allah
3.      Tujuan utama dari pendidikan Islam adalah mencetak manusia yang sempurna, berilmu, berakhlak dan beradab.
4.      Ayat ini kaitannya dengan proses pendidikan adalah seorang guru apapun pelajaran yang disampaikan, sampaikanlah dengan sejelas-jelasnya, sampai pada tahap seorang siswa (subyek didik) benar-benar faham.
Surat An-Najm :
            Seorang guru itu harus mempunyai kekuatan, baik kekuatan secara jasmani maupun rohani. Kekuatan jasmani yakni berupa totalitas dalam mengajar, penampilan dan perilaku yang baik,karena perilaku kita akan dijadikan cerminan oleh murid-murid kita.
Surat An-Nahl 43 - 44 :
Q.S. An-Nahl ayat 43-44 terdapat hubungan yang sangart erat dengan pendidikan, khususnya tentang subyek pendidikan. Hal ini ditunjukkan dengan pengajaran yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril tentang ketauhidan dan sebagainya dan Allah menyuruh Nabi Muhammad untuk menyampaikannya kepada umatnya.
Subyek pendidikan meliputi pendidik dan peserta didik, keduanya merupakan suatu yang tidak dapat dipisahkan. Jika salah satu diantara keduanya tidak ada maka tidak akan terjadi proses pendidikan, sehingga tujuan pendidikan untuk mencapai insan kamil tidak akan dapat tercapai.

Surat Al-Kahfi 66 :
Seorang mendidik harus memiliki kompetensi dan kepribadian yang luhur dalam proses pembelajaran, diantaranya ada lah dengan memiliki sikap sabar dalam menghadapi prilaku peserta didiknya. Jika sikap seperti ini dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, maka akan tercapai suasana yang kondusif terhadap upaya memperoleh hasil belajar yang berkualitas baik, salah satunya dengan menerapkan model pembelajara “PAKEM” (pembelajaran aktif, kreatif, efektif   danmenyenangkan).



KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt, karena atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul “ Ayat-Ayat Yang Relevan Dengan Subyek Pendidikan”.
            Makalah ini berisikan tentang ayat-ayat dan hadist-hadist yang relevan dengan subyek pendidikan, konsep subyek pendidikan, karakteristik pendidikan. Diharapkan, makalah ini akan memberikan pemahaman kepada kita tentang konsep kependidikan dalam islam.
            Walaupun kami telah mencurahkan segala kemampuan kami dalam penulisan makalah ini. Kami menyadari bahwa, penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi, penulisan, maupun kata-kata yang digunakan. Oleh sebab itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan.
            Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah Swt senantiasa meridhoi segala usaha kita.




DATAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................    i
DATAR ISI........................................................................................................   ii
BAB I      SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR SURAT AR-RAHMAN : 1 - 4.........................................................................   1
A.    Surat Ar-Rahman : 1 - 4..............................................................   1
B.     Tafsir Surat Ar-Rahman : 1 - 4....................................................   1
C.     Subjek Pendidikan Menurut Surat Ar-Rahman Ayat 1 – 4.........   2
1.      Ar-Rahman...........................................................................   2
2.      ‘Allamal Qur’an....................................................................  4
3.      Kholakol Insan......................................................................  5
4.      ‘Allamahul Bayan.................................................................  6
BAB II    SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR SURAT AN-NAJM : 5-6..................................................................................  9
A.       Surat An-Najm Ayat 5 – 6...........................................................  9
B.       Tafsir Surat An-Najm 5 – 6.........................................................  9
BAB III   SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR SURAT AN-NAHL : 43 – 44..........................................................................   13
A.    Surat An-Nahl : 43-44................................................................   13
1.      Arti Kosa Kata....................................................................    13
2.      Penjelasan Tafsir Ayat........................................................    14
B.     Hadist Yang Relevan Dengan Subyek Pendidikan....................    18
C.     Keutamaan Majlis Ilmu..............................................................    20
D.    Pelajaran Ayat Dan Kaitannya Dengan Subyek Pendidikan......    21
BAB IV SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR SURAT AL-KAHFI : 66.................................................................................    24
BAB V    SIMPULAN.......................................................................................    28

DATAR PUSTAKA.........................................................................................    30


BAB I
SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF
TAFSIR SURAT AR-RAHMAN : 1 - 4

A.      Surat Ar-Rahman : 1 - 4
                ﴾٤﴿  عَلَّمَهُالْبَيَانَ  ﴾٣﴿  خَلَقَالْإِنسَانَ  ﴾٢﴿  عَلَّمَالْقُرْآنَ  ﴾١﴿  الرَّحْمَنُ
(1) Allah yang maha pemurah.  (2) Yang telah mengajarkan Al-Quran.  (3) Dia menciptakan manusia.  (4) Mengajarnya pandai berbicara.
B.       Tafsir Surat Ar-Rahman : 1 - 4
Ayat 1 dan 2 : Pada ayat ini Allah yang maha pemurah menyatakan bahwa Dia telah mengajar Muhammad Al-Quran dan Muhammad telah mengajarkan umatnya. Ayat ini turun sebagai bantahan bagi penduduk Makkah yang mengatakan “Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. 364)
            Oleh karena ayat ini mengungkapan beberapa nikmat Allah atas hambaNya, maka surat ini dimulai dengan menyebut nikmat yang paling besar faedahnya danpaling banyak manfaatnya bagihamba-Nya, yaitu nikmat mengajar Al-Quran. Maka manusia dengan mengikuti ajaran Al-Quran akan berbahagialah di dunia dan di akhirat dan dengan berpegang teguh pada petunjuk-petunjuk-Nya niscaya akan tercapailah tujuan di kedua tempat tersebut. Al-Quran adalah induk kitab-kitab samawi yang diturunkan kepada sebaik-baik makhluk Allah yang berada di bumi ini.
            Ayat 3 dan 4 : Dalam ayat ini Allah menyebutkan nimat kejadian manusia yang menjadi dasar semua persoalan dan pokok segala sesuatu. Sesudah Allah menyatakan nikmat mengajar Al-Quran pada ayat yang lalu, maka pada ayat ini Allah menciptakan jenis makhluk-Nya ini dan diajarka-Nya pandai membicarakan tentang apa yang tergores dalam jiwanya dan apa yang terpikir oleh otaknya, kalaulah tidak mungkin tentu Muhammad tidak akan mengajarkan Al-Quran kepada umatnya.
            Manusia adalah makhluk yang berbudaya, tidak dapat hidup kecuali dengan berjamaah, maka haruslah ada alat komunikasi yang dapat menghubungkan antara dia dengan saudaranya yang menulis kepadanya dari penjuru dunia yang jauh dan dari benua-benua serta dapat memelihara ilmu-ilmu terdahulu untuk dimanfaatkan oleh orang-orang kemudian dan menambah kekurangan-kekurangan yang terdapat dari orang-orang terdahulu.
            Ini adalah suatu anugerah rohaniah yang sangat tinggi nilainya dan tidak ada bandingannya dalam hidup, dari itu nikmat ini didahulukan sebutannya dari nikmat-nikmat yang lain. Pertama-tama dimulai dengan sesuatu yang harus dipelajari, yaitu Al-Quran yang menjamin kebahagiaan, lalu diikuti dengan belajar kemudian ketiga cara dan metode belajar, dan seteusrnya berpindah kepada membacakan benda-benda angkasa yang diambi manfaat darinya.[1]
C.     Subjek Pendidikan Menurut Surat Ar-Rahman Ayat 1 – 4
1.       Ar-Rahman
Ar-Rahman adalah salah satu dari sekian banyak sifat Allah, yang mengandung makna pengasih kepada seluruh makhluknya didunia tanpa terkecuali, baik makhluk yang taat ataupun yang mengingkarinya, bahkan kepada iblispun Allah masih “sayang”. Ayat pertama ini kaitannya dengan pendidikan adalah seorang pendidik atau guru harus mempersiapkan dirinya dengan sifat rahman, yaitu mempunyai sifat kasih sayang kepada seluruh peserta didik atau murid tanpa pandang bulu, baik kepada murid yang pintar, bodoh, rajin, malas, baik ataupun nakal. [2] Dan semua yang disebutkan di atas masuk dalam kategori kode etik yang harus dimiliki seorang pendidik. Menurut Al-Gazhali, ada 17 kode etik yang diperankan pendidik diantaranya :
a.       Menerima segala problem peserta didik dengan hati dan sikap yang terbuka dan tabah
b.      Bersifat lemah lembut dalam menghadapi peserta didik yang tingkat IQ-nya rendah, serta membinanya sampai pada taraf maksimal,
c.       Meninggalkan sifat marah dalam menghadapi problem peserta didik,
d.      Memperbaiki sikap peserta didik, dan lemah lembut terhadap peserta didik yang kurang lancar berbicara,
e.       Meninggalkan sifat yang menakutkan bagi peserta didik, terutama pada peserta didik yang belum mengerti atau mengetahui,
f.       Berusaha memperhatikan pertanyaan-pertanyaan peserta didik walaupun pertanyaannya terkesan tidak bermutu atau tidak sesuai dengan masalah yang diajarkan.
g.      Menjadikan kebenaran sebagai acuan dalam proses pendidikan, walaupun kebenaran itu datangnya dari peserta didik,
h.      Menerima kebenaran yang diajukan peserta didik.[3]

Dalam diri seorang pendidik, terhimpun sifat-sifat baik yang sepatutnya dimiliki manusia. Sifat-sifat baik itu merupakan dasar sikap dan tingkah laku yang patut diteladani subyek (anak) didiknya sebagai orang-orang yang dipimpinnya. Karena sungguh, sebagai pemimpin maka Allah akan memintai pertanggung jawaban dari apa yang dipimpinnya, Rasulullah Saw bersabda :
                                                       كلّكم راع وكلّكم مسؤول عن رعيّته
Artinya :
Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya.
Ilmu yang ditransfer dan diterapkan dengan dasar kasih sayang akan besar efeknya kepada murid, terutama dalam penyerapan ilmu yang ditransfer dan diinternalisasikan.
Dimulainya surah ini dengan kata ar-Rahman bertujuan mengundang rasa ingin tahu mereka dengan harapan akan tergugah untuk mengakui nikmat-nikmat dan beriman kepada Allah.

2.       ‘Allamal Qur’an
Al-quran adalah kalamullah atau firman Allah, bukan ucapan Nabi atau manusia lainnya. Tidak ada sepatah katapun ucapan Nabi dalam Al-quran. Pada saat Al-quran diturunkan, Nabi melarang para sahabatnya untuk menghafal atau mencatat, apalagi mengumpulkan ucapannya. Beliau hanya menyuruh untuk menghafal dan mencatat Al-quran. Hal ini semata-mata untuk menjaga kemurnian firma Allah.[4] Sedangkan Syekh Ali Ash-Shabuni mengatakan, Al-quran adalah kalam Allah yang mu’jiz, diturunkan kepada Nabi dan Rasul penghabisan dengan perantaraan Malaikat terpercaya, Jibril, tertulis dalam mushhaf yang dinukilkan kepada kita secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, yang dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.[5] Al-quran merupakan sumber utama dalam pendidikan islam. Menurut Drs. Ahmad D Marimba dalam bukunya “Pengantar Filsafat Pendidikan Islam” menuliskan : Apakah dasar pendidikan Islam? Singkat dan tegas ialah firman Allah dan sunnah Rasulullah. Kalau pendidikan diibaratkan bangunan, maka isi Al-quran dan hadislah yang menjadi fundamennya.[6]
Al-quran dijadikan sebagai sumber pendidikan Islam yang pertama dan utama karena Al-quran memiliki nilai absolut yang diturunkan dari Tuhan. Allah Swt menciptakan manusia dan Allah pula yang mendidik manusia, yang mana isi pendidikan itu telah termaktub dalam wahyu-wahyu Nya. Tidak satu persoalanpun, termasuk soal pendidikan, yang luput dari jangkauan Al-quran.[7]
Maka benarlah sabda Rasulullah Saw mengenai Al-quran, yang Artinya : “Dari Ustman r.a, Rasulullah Saw bersabda, “ Sebaik-baik kamu adalah orang yang berlajar Al-quran dan mengajarkannya”
Al-quran adalah inti agama. Menjaga dan menyebarkannya berarti menegakkan agama, sehingga sangat jelas keutamaan mempelajari dan mengajarkannya, walaupun bentuknya berbeda-beda. Yang paling sempurna adalah mempelajarinya, dan akan lebih sempurna lagi jika mengetahui maksud dan kandungannya.[8]
Karena begitu pentingnya kedudukan Al-quran, maka Allah Ar-Rahman langsung yang mengajarkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad.
Mengajarkan Al-qur’an. Ini menunjukan bahwa seorang guru harus terlebih dahulu mempersiapkan Al-qur’an, dalam konteks ini Al-qur’an diterjemahkan dengan materi pelajaran. Sebelum guru berada dihadapan siswa, guru harus terlebih dahulu mempersiapkan dalam artian menguasai, memahami materi yang akan disampaikan kepada siswa, baik materi pokok yang merupakan keahliannya maupun materi penunjang diluar keahliannya. Guru yang hanya menguasai bahan pokok akan melahirkan kegiatan belajar mengajar yang kaku.[9]

3.       Kholakol Insan
Manusia adalah makhluk yang mungkin, dapat dan harus dididik, sesuai dengan hakekatnya sebagai makhluk ciptaan Allah Swt, yang hidup sebagai satu diri (individu) dalam kebersamaan (sosialitas) dalam masyarakat, dan karena memiliki kemungkinan tumbuh dan berkembang, di dalam keterbatasannya sebagai manusia. Pendidikan menjadi keharusan bagi manusia, karena empat fakta yang dihadapinya dalam kehidupan. Manusia hanya akan menjadi manusia karena pendidikan. Mendidik berarti memanusiakan. [10]
Dalam pendidikan Islam, pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik (subyek didik), baik potensi efektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa). Pendidik berarti juga orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan kepada peserta didik dalam perkembangan jasmani dan ruhaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba Allah dan khalifah Allah dan mampu melakukan tugas sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk individu yang mandiri.[11]
Khalakol Insan (Menciptakan Manusia). Menilik tujuan utama dari pendidikan adalah mencetak manusia yang sempurna, yang berilmu, berakhlak dan beradab. Tentu tidak ada manusia yang sempurna, namun berusaha menjadi manusia yang sempurana adalah suatu kewajiban. Seorang guru apapun materi yang ia ajarkan hendaknya mengarahkan siswanya menjadi manusia yang berilmu, beradab dan bermartabat yang berujung kepada ketaqwaan kepada Yang Maha Esa, seorang guru bukan hanya mengarahkan pada aspek prestasi saja. Menurut Imam Al-Ghazali, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membimbing hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.[12]

4.       ‘Allamahul Bayan
‘Allamahul Bayan (mengajarnya pandai berbicara). Al-Hasan berkata: "Kata al-Bayan berarti berbicara. Karena siyaq berada dalam pengajaran Al-Quran oleh Allah Ta'ala yaitu cara membacanya. Dan hal itu berlangsung dengan cara memudahkan pengucapan artikulasi, serta memudahkan keluarnya huruf melalui jalannya masing-masing dari tenggorokan, lidah dan dua buah bibir sesuai dengan keragaman artikulasi dan jenis hurufnya.
Ayat ini kaitannya dengan proses pendidikan adalah seorang guru apapun pelajaran yang disampaikan, sampaikanlah dengan sejelas-jelasnya, sampai pada tahap seorang siswa (subyek didik) benar-benar faham. AI-Bayan berarti jelas. Namun ia tidak terbatas pada ucapan, tetapi mencakup segala bentuk ekspresi, termasuk seni dan raut muka.
Suatu hal yang juga sangat perlu diperhatikan oleh seorang pendidik (guru) dalam mengajar, membimbing, dan melatih muridnya adalah “kebutuhan dan kode etik murid”
Al-Qussy Membagi kebutuhan manusia (subyek didik) dalam dua kebutuhan pokok, yaitu :
a.       Kebutuhan primer, yaitu kebutuhan jasmani seperti makan, minum, seks, dan sebagainya.
b.      Kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan ruhaniah.[13]
Sedangkan Al-Ghazali merumuskan sebelas pokok kode etik peserta didik, diantaranya adalah :
a.       Belajar dengan niat ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik dituntut untuk selalu menyucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela.
b.      Bersikap tawadhu’ (rendah hati) dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidiknya.
c.       Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga peserta didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.
d.      Peserta didik harus tunduk pada nasihat pendidik sebagaimana tunduknya orang sakit terhadap dokter.[14]
PERMASALAHAN PENDIDIKAN DAN SOLUSINYA
            Pertama: Di dalam proses belajar-mengajar, pendidik dituntut untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, jika tidak maka tujuan dari pendidikan tidak akan tercapai karena waktu yang diberikan dalam pendidikan formal itu terbatas, misalnya saja mata pelajaran agama Islam dalan pendidikan formal. Hanya dua-tiga jam saja dalam seminggu, kalau dipikir dengan waktu yang begitu sedikit maka tujuan pendidikan agama Islam tersebut tidak akan tercapai.
            Untuk mengatasi masalah ini, maka seorang pendidik haruslah mampu memanfaatkan waktunya yang begitu singkat tersebut, salah satu solusi untuk seorang pendidik mengenai masalah ini adalah pembuatan RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran). Dengan pembuatan RPP seorang pendidik akan mampu mengatasi masalah waktu yang begitu singkat tersebut.
            Kedua:  Pendidikan kontemporer mengalami kemunduran, tawuran antara pelajar sudah menjadi hal yang biasa, belum lagi perilaku pelajar maupun pendidik yang melakukan hubungan perzinahan. Perilaku maupun karakter yang positif (baik) sudah seimbang dengan perilaku negatif (buruk), baik itu dari pihak pelajar maupun pendidik. Sehingga hal ini menjadi PR bagi kita supaya pelajar maupun pendidik dalam kesehariannya selalu menunjukkan sifat-sifat maupun karakter-karakter yang baik.
            Untuk membentuk karakter yang baik, itu tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu singkat, karena karakter itu muncul dari kebiasaan. Artinya, dalam keseharian kita tanamkan kepada diri kita sebagai pendidik dan kepada peserta didik agar selalu membiasakan diri untuk bersikap positif lewat kegiatan-kegiatan yang positif pula. Karena dengan demikian, akan terlahirlah karakter baik dan bersifat positif dari pendidik dan peserta didik.

BAB  II
SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF
TAFSIR SURAT AN-NAJM : 5 - 6

A.   Surat An-Najm Ayat 5 - 6
عامه شديد القوى
ذومرة فاستوى
Artinya: “Ia diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat, pemilik potensi yang sangat hebat, lalu dia tampil sempurna.”
B.     Tafsir Surat An-Najm : 5 - 6
Setelah ayat lalu menjelaskan bahwa apa yang diucapkan Nabi Muhammad Saw. adalah wahyu, kini dijelaskan siapa yang menyampaikannya kepada beliau. Allah berfirman bahwa: Ia, yakni wahyu yang diterimanya itu, di ajarkan kepadanya, yakni kepada Nabi Muhammad Saw., oleh malaikat Jibril yang sangat kuat, pemilik potensi akliah yang sangat hebat; lalu dia, yakni malaikat Jibril itu, tampil sempurna dengan menampakkan rupa yang asli. Sedang dia, yakni Malaikat Jibril itu, berada di ufuk langit yang tinggi berhadapan dengan orang-orang yang menengadahkan kepadanya.
Kata ‘Allamahu atau yang diajarkan kepadanya bukan berarti bahwa wahyu tersebut bersumber dari malaikat Jibril. Seorang yang mengajar tidak mutlak mengajarkan sesuatu yang bersumber dari sang pengajar.[15]
Kata mirrah terambil dari kalimat amrartu al-habla yang berarti melilitkan tali guna menguatkan sesuatu. Kata dzu mirrah digunakan untuk menggambarkan kekuatan nalar dan tingginya kemampuan seseorang. Al-Biqa’i memahaminya dalam arti ketegasan dan kekuatan yang luar biasa untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya tanpa sedikit pun mengarah kepada tugas selainnya disertai dengan penuh keikhlasan. Ada juga yang memahaminya dalam arti kekuatan fisik, akal dan nalar.[16] Penjelasan lain dari kata Dzu mirrah adalah yang mempunyai kecerdasan akal. Sifat Jibril yang pertama menggambarkan tentang betapa kuat pikiran dan betapa nyata pengaruh-pengaruhnya yang mengagumkan. Kesimpulannya, bahwa Jibril memiliki kekuatan-kekuatan pikiran,dan kekuatan-kekuatan tubuh. Sebagaimana telah diriwayatkan bahwa ia pernah mencukil kaum luth dari laut hitam yang waktu itu berada dibawah tanah, lalu memanggulnya pada kedua sayap dan diangkatnya dari negeri itu ke langit, kemudian dibalikkan. Pernah pula ia berteriak kepada kaum Tsamud, sehingga mereka meti semua.[17]
Ayat tersebut merupakan jawaban dari perkataan mereka yang mengatakan bahwa Muhammad itu hanyalah tukang dongeng yang mendongengkan dongeng-dongengan(legenda-legenda orang terdahulu). [18]
Penjelasan lain tentang wahyu yang diterima nabi Muhammad Saw.adalah bahwasannya yang mengajarkan wahyu itu kepada beliau adalah makhluk yang sangat kuat. Ibnu katsir dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan yang sangat kuat itu adalah malaikat Jibril.
“Yang mempunyai keteguhan”(pangkal ayat 6), Mujahid, Al-Hasan dan Ibnu Zaid memberi arti: “yang mempunyai keteguhan”. Ibnu Abbas memberi arti: “yang mempunyai rupa yang elok”. Qatadah memberi arti: “yang mempunyai bentuk badan yang tinggi bagus.” Ibnu katsir ketika memberi arti berkata: “tidak ada perbedaan dalam arti yang dikemukakan itu. Karena malaikat Jibril itu memeng bagus dipandang mata dan mempunyai kekuatan luar biasa. Lanjutan ayat ialah: fastawa, yang artinya: yang menampakkan diri yang asli.”(ujung ayat 6)
Menurut riwayat dari Ibnu Abi Hatim yang diterimanya dari Abdullah bin Mas’ud, bahwasannya raulullah itu melihat rupanya yang asli itu dua kali. Yang pertama adalah ketika Rasulullah Saw.meminta kepada Jibril supaya sudi memperlihatkan diri menurut rupanya yang asli. Lalu kelihatanlah dia dalam keasliannya itu memenuhi ufuk. Yang kedua adalah ketika dia memperlihatkan diri dalam keadaannya yang asli itu, ketia Jibril akan menemani beliau pergi Isra’ dan Mi’raj. Dalam pernyataan diri dari keasliannya itu, Nabi melihatnya dengan sayap yang sangat banyak, yakni 600 sayap. [19]
Kaitannya dengan judul makalah kami yakni subyek pendidikan, yang dimaksud pengajar atau yang menjadi subyek disini adalah Malaikat Jibril, bukan berarti bahwa wahyu tersebut bersumber dari Malaikat Jibril. Seseorang yang mengajar tidak mutlak mengajarkan sesuatu yang bersumber dari sang pengajar. Bukankah kita mengajar seorang anak membaca, padahal bacaan itu juga bukan merupakan karya kita? Menyampaikan sesuatu secara baik dan benar adalahsatu bentuk pengajaran. Malaikat menerima wahu dari Allah dengan tugas menyampaikannya secara baik dan benar kepada Nabi Muhammad Saw., dan itulah yang dimaksud pengajaran disini.
Sedangkan jika dikaitkan dengan pengajar atau pendidik yakni seorang guru, maka dapat di ambil beberapa kriteria guru yakni diantaranya adalah seorang guru itu harus mempunyai kekuatan, baik kekuatan secara jasmani maupun rohani. Kekuatan jasmani yakni berupa totalitas dalam mengajar, penampilan dan perilaku yang baik,karena perilaku kita akan dijadikan cerminan oleh murid-murid kita.
Sedangkan yang dimaksud dengan kekuatan rohani yakni cerdas aqliyah maupun fi’liyah, kesungguhan dalam menyampaikan mata pelajaran kepada anak didik, serta kesabaran dalam mendidik dan menanamkan akhlakul karimah kepada peserta didik.

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DAN SOLUSINYA
Seorang pendidik merupakan cermin bagi pelajar, pelajar sedikit tidak akan mengikuti karakter dan sifat dari seorang pendidik. Sehingga sepantasnya bagi pendidik memberikan tauladan yang baik bagi pelajar, akan tetapi realita yang terjadi dalam dunia pendidikan kontemporer sudah tidak menunjukkan hal tersebut. Pendidik bersaing dengan pelajar dalam berperilaku buruk yang tidak sepantasnya dilakukan bagi seorang pendidik maupun pelajar.
            Karena seorang pendidik merupakan cermin bagi pelajar. Maka seorang pendidik harus melihat dan mengevaluasi kembali segala bentuk sikap khilafnya agar kedepannya bisa diperbaiki. Karena, ketika pendidik mampu melakukannya dan mampu memperbaiki kesalahan ataupun kekhilafannya, maka perilaku pelajarpun sedikit tidak akan berubah dan mengikuti pendidik. Dalam proses belajar-mengajar pendidik menunjukkan kasih sayangnya dalam mengajar, maka pelajarpun akan memunculkan rasa kasih sayang kepada sesama, sehingga tidak ada lagi tawuran antar pelajar dan segala bentuk kekerasan lainnya.













BAB III
SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF
TAFSIR SURAT AN-NAHL : 43-44

A.    SURAT AN-NAHL : 43-44
               
وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلأَ رِجَلآ نٌوْحِيْ اِلَيْهِمْ فَسْئَلُوْا اَهْلَ ألذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ (43)
بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْناَاِلَيْكَ الذِّكْرَلِتُبَيِّنَ للِنَّاسِ مَانُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ(44)

Artinya :
“Dan kami tidak mengutus sebelum kamu kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu pada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kalian tidak mengatahui (43) . Dengan membawa keterangan-keterangan (mu’jizat) dan kitab-kitab dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(44).[1]

1.      ARTI KOSAKATA
رِجالًا : kecuali orang-orang lelaki, bukan malaikat. Ini merupakan bantahan terhadap orang-orang Quraisy yang mengatakan : Allah lebih agung dari pada rasul-Nya seorang manusia.  Dan ini juga merupakan dalil yang tegas kenabian tidak diberikan kecuali kepada orang laki-laki, tidak ada nabi dari kalangan wanita.
أَهْلَ الذِّكْرِ : orang yang mempunyai pengetahuan, yaitu ulama ahlul kitab yang mengetahui taurat dan injil.
إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ : jika kamu tidak mengetahui, yakni jika kamu tidak mengetahui hal itu, karena mereka mengetahuinya, kalian lebih mempercayai mereka dari pada kepercayaan orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw.
بِالْبَيِّناتِ : keterangan-keterangan (mukjizat), yakni kami mengutus  mereka dengan keterangan-keterangan yaitu argumentasi-argumentasi yang  jelas. Al-Bayyinah adalah mukjizat yang menunjukkan kebenaran Rasul.
الزُّبُرِ : kitab-kitab, yakni kitab-kitab syari’at dan kewajiban-kewajiban manusia.
الذِّكْرَ : al-Qur’an. Al-Qur’an dinamakan الذِّكْرَ karena ia merupakan pelajaran dan peringatan.
لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ : agar kamu menerangkan kepada umat manusia, yakni menerangkanrahasia-rahasia syariat. 
ما نُزِّلَ إِلَيْهِمْ :  apa yang telah diturunkan kepada mereka, yaitu al-Qur’an,
وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ : dan supaya mereka memikirkan,

2.      PENJELASAN TAFSIR  AYAT
وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلأَ رِجَلآ نٌوْحِيْ اِلَيْهِمْ  = Tidakkah Kami mengutus para rasul sebelummu kepada umat-umat untuk mengajak mereka agar mentauhidkan Aku dan melaksanakan perintah-Ku, kecuali mereka itu adalah laki-laki dari Bani Adam yang Kami wahyukan kepada mereka, bukan para malaikat. Ayat ini menguraikan kesesatan pandangan mereka menyangkut kerasulan Nabi Muhammad SAW. Dalam penolakan itu mereka selalu berkata bahwa manusia tidak wajar menjadi utusan Allah, atau paling tidak dia harus disertai oleh malaikat.
            Allah SWT menyatakan bahwa Dia tidak mengutus Rasul sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw terkecuali laki-laki yang diutusnya itu diberi wahyu. Ayat ini menggambarkan bahwa Rasul-rasul yang diutus untuk menyampaikan wahyu hanyalah laki-laki dari keturunan Adam as sehingga Muhammad saw diutus untuk membimbing umatnya agar mereka itu beragama tauhid dan mengikuti bimbingan wahyu. Maka yang pantas diutus ialah Rasul-rasul dari jenis mereka dan berbahasa seperti mereka. Pada saat  Rasulullah saw diutus orang-orang Arab menyangkal bahwa Allah tidak mungkin mengutus utusan yang berasal dari manusia seperti mereka, seperti disebutkan dalam firman Allah SWT:
وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا
Dan mereka berkata: "Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?. Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?". (Q.S Al Furqan: 7) [2]

Dan firman-Nya:
أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنْ أَنْذِرِ النَّاسَ وَبَشِّرِ الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالَ الْكَافِرُونَ إِنَّ هَذَا لَسَاحِرٌ مُبِينٌ
Patutkah menjadi keheranan bagi manusia, bahwa kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: "Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka". Orang-orang kafir berkata: "Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar tukang sihir yang nyata". (Q.S Yunus: 2) [3]
              Mengenai penolakan orang-orang Arab pada kerisalahan Muhammad karena ia seorang manusia biasa, dapatlah diikuti sebuah riwayat dari Adh-Dhahhak yang disandarkan kepada Ibnu Abbas bahwa setelah Muhammad saw diangkat menjadi utusan, orang Arablah yang mengingkari kenabiannya, mereka berkata: "Allah SWT lebih Agung bila Rasul Nya itu bukan manusia. Kemudian turun ayat-ayat surah Yunus.
فَسْئَلُوْا اَهْلَ ألذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ  = Maka tanyakanlah kepada ahli kitab dahulu diantara orang-orang Yahudi dan Nasrani, apakah para utusan yang diutus kepada mereka itu manusia ataukah malaikat? Jika mereka itu malaikat silakan kalian ingkari Muhammad SAW tetapi jika mereka itu manusia, jangan kalian ingkari dia.[4]
Sesudah itu Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang musyrik agar bertanya kepada orang-orang Ahli Kitab sebelum kedatangan Muhammad saw, baik kepada orang-orang Yahudi ataupun kepada orang-orang Nasrani. أهل الذكر (Ahli dzikri): Ahli kitab yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah menerima kitab-kitab dan ajaran dari Nabi-nabi terdahulu. Di sini tersebut Ahlu-Dzikr, orang yang ahli peringatan, atau orang yang berpengetahuan lebih luas. Arti umum ayat menyuruhkan orang yang tidak tahu bertanya kepada yang lebih tahu, karena ilmu pengetahuan itu adalah umum sifatnya, berfaedah mencari kebenaran. Menurut yang diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa ahlu-dzikri di sini maksudnya ialah Ahlul-kitab. Sebelum ahlu kitab ini dipengaruhi oleh nafsu ingin menang sendiri, mereka akan mengakui bahwa Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang terdahulu itu semuanya adalah manusia belaka, manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah.
Apakah di dalam kitab-kitab mereka itu disebutkan suatu keterangan bahwa Allah pernah mengutus malaikat kepada mereka. Maka kalau disebutkan di dalam kitab mereka itu bahwa Allah pernah menurunkan malaikat sebagai utusan Allah bolehlah mereka itu mengingkari kerisalahan Muhammad. Akan tetapi apabila yang disebutkan di dalam kitab mereka Allah hanya mengirim utusan kepada mereka manusia yang sejenis dengan mereka maka tidak benarlah apabila orang-orang musyrik itu mengingkari kerisalahan Muhammad saw.
Dengan ayat ini kita mendapat pengertian bahwasannya kita boleh menuntut ilmu kepada ahlinya, dimana saja dan siapa saja, sebab yang kita cari ialah kebenaran.[5]
بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِ  = keterangan-keterangan dan zubur, para rasul yang diutus sebelum itu semua membawa keterangan-keterangan yakni mukjizat-mukjizat nyata yang membuktikan kebenaran mereka sebagai rasul dan sebagian pembawa pula zubur yakni kitab-kitab yang mengandung ketetapan-ketetapan hukum dan nasihat-nasihat yang seharusnya menyentuh hati. Kata Zubur yakni tulisan, yang dimaksud disini adalah Taurat, Injil, Zabur dan Shuhuf Ibrahim as.[6]   Allah SWT menjelaskan bahwa rasul-rasul itu diutus dengan membawa keterangan-keterangan yang membuktikan kebenarannya, yaitu mukjizat dan kita-kitab. Yang dimaksud dengan keterangan di dalam ayat ini ialah dalil-dalil yang membukakan kebenaran kerisalahannya dan di maksud dengan Az Zabur ialah kitab yang mengandung tuntunan hidup dan tata hukum yang diberikan oleh Allah kepada hamba Nya.  
وَأَنْزَلْناَاِلَيْكَ الذِّكْرَلِتُبَيِّنَ للِنَّاسِ مَانُزِّلَ اِلَيْهِمْ = dan Kami turunkan padamu adz-dzikr agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. Kata adz-dzikr disini adalah al Qur’an, dari segi bahasa adalah antonim kata lupa. Al Qur’an dinamai demekian karena ayat-ayatnya berfungsi mengingatkan manusia. Dan Allah SWT menerangkan pula bahwa Dia telah menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw, agar beliau memberikan penjelasan kepada manusia apa saja yang telah diturunkan kepada mereka , yaitu perintah-perintah, larangan-larangan, aturan-aturan hidup lainnya yang harus mereka perhatikan, dan kisah-kisah umat-umat terdahulu agar supaya dijadikan suri tauladan  dalam menempuh kehidupan di dunia.
Pengulangan kata turun dua kali yakni وَأَنْزَلْناَاِلَيْكَ dan مَانُزِّلَ اِلَيْهِمْ  mengisyaratkan perbedaan penurunan yang dimaksud, yang pertama adalah penurunan al Qur’an kepada Nabi Muhammad yang bersifat langsung dari Allah dan dengan redaksi pilihan-Nya sendiri. Sedang yang kedua adalah ditujukan kepada manusia seluruhnya. Juga agar Nabi saw menjelaskan kepada mereka hal-hal yang mereka anggap, yaitu menjelaskan hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an  serta memerinci kandungannya yang bersifat global sesuai dengan kemampuan berpikir dan kepahaman mereka terhadap tujuan-tujuan pembentukan syari’at.
وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ = Supaya mereka berfikir, yakni agar mereka berfikir dan tidak mengikuti jejak para pendusta terdahulu sehingga mereka tidak ditimpa azab seperti yang telah ditimpakan kepada mereka. Allah tidak membinasakan mereka dengan azab yang cepat, akan tetapi dengan keadaan yang menakutkan seperti angin kencang, petir dan gempa. Disini terdapat penangguhan waktu yang mungkin didalamnya terdapat pengabaian, ini adalah salah satu dampak rahmat Allah terhadap hamba-Nya.
                   Di akhir ayat Allah SWT menandaskan agar mereka suka memikirkan kandungan isi Al-Qur’an dengan pemikiran yang jernih baik terhadap prinsip-perinsip hidup yang terkandung di dalamnya, tata aturan yang termuat di dalamnya serta tamsil ibarat yang ada di dalam ayat-ayatnya, agar mereka itu memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat.

B.     HADIST YANG RELEVAN DENGAN SUBYEK PENDIDIKAN     
59 – حدثنا محمد بن سنان قال: حدثنا فليح (ح). وحدثني إبراهيم بن المنذر قال: حدثنا محمد بن فليح قال: حدثني أبي قال: حدثني هلال بن علي، عن عطاء بن يسار، عن أبي هريرة قال:
بينما النبي صلى الله عليه وسلم في مجلس يحدث القوم، جاءه أعرابي فقال: متى الساعة؟. فمضى رسول الله صلى الله عليه وسلم يحدث، فقال بعض القوم: سمع ما قال فكره ما قال. وقال بعضهم: بل لم يسمع. حتى إذ قضى حديثه قال: (أين – أراه – السائل عن الساعة). قال: ها أنا يا رسول الله، قال: (فإذا ضعيت الأمانة فانتظر الساعة). قال: كيف إضاعتها؟ قال: (إذا وسد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة).
Artinya: Muhammad bin Sinan menceritakan kepadaku, beliau berkata, Falih menceritakan kepadaku dan Ibrahim bin Mundzir menceritakan kepadaku, beliau berkata, Muhammad bin Falih menceritakan kepadaku, beliau berkata, Bapakku menceritakan kepadaku, beliau berkata, Hilal bin Ali menceritakan kepadaku dari atho’ bin Yasar dari Abi Hurairah beliau berkata,”pada suatu hari Nabi SAW dalam suatu majlis sedang berbicara dengan sebuah kaum, datanglah kepada beliau orang badui dan bertanya,” kapan kiamat datang?” maka Rasulullah meneruskan pembicaraannya. Maka sebagian kaum berkata,” beliau dengar apa yang diucapkan dan beliau tidak suka apa yang dikatakannya.” Sebagian lagi berkata,” beliau tidak mendengarnya.” Setelah beliau selesai dari pembicaraannya beliau berkata,” dimana orang yang bertanya tentang kiamat?.” Saya ya Rasulullah.” Beliau bersabda,”Ketika amanat disia-siakan maka tunggu saja kedatangan kiamat.” Orang itu bertanya lagi,” Bagaimana menyia-nyiakan amanat?.” Beliau bersabda: Ketika sesuatu perkara diserahkan kepada selain ahlinya maka tunggulah datangnya kiamat ( kehancurannya ).” ( HR. Bukhori bab Barangsiapa ditanyai suatu ilmu sementara dia sedang sibuk berbicara maka selesaikan pembicaraannya lalu jawab pertanyaannya )
Hadis di atas memberikan pelajaran pada kita dua hal, yang pertama kita hendaknya jangan memotong pembicaraan orang lain ketika hendak bertanya tentang suatu ilmu, karena memotong pembicaraan orang lain untuk tujuan apapun tidak dibenarkan sama sekali. Termasuk di dalamnya adalah menginterupsi guru atau dosen yang sedang mengajar dengan sebuah pertanyaan sebelum sang guru / dosen tersebut memberikan waktu khusus untuk bertanya kepadanya. Memotong pembicaraan guru atau dosen termasuk su’ul adab kepada sang guru, dan itu bias mengurangi keberkahan ilmu yang ia dapatkan, yang kedua apabila si penanya telah menyampaikan pertanyaannya sementara kita masih serius dalam pembicaraan maka kita lanjutkan pembicaraan sampai selesai, baru kemudian menjawab pertanyaan yang disampaikan, hal itu dimaksudkan agar tujuan dari pembicaraan tidak terputus.
Disamping itu hadis di atas juga memberikan informasi pada kita tentang profesionalisme kerja, segala sesuatu harus diserahkan kepada yang membidanginya atau orang yang berkompeten terhadapnya. Sebab menyerahkan sesuatu kepada selain ahlinya hanya akan menyebabkan kehancuran semata. Begitu juga dalam pendidikan, kompetensi guru mutlak diperlukan dalam rangka menunjang mutu pendidikan, sebab tanpa ditangani guru yang kompeten maka tujuan pendidikan tidak akan pernah dapat dicapai. Wallahu a’lam. 
 
C.    KEUTAMAAN MAJELIS ILMU
66 – حدثنا إسماعيل قال: حدثني مالك، عن إسحاق بن عبد الله بن أبي طلحة: أن أبا مرة مولى عقيل بن أبي طالب أخبره: عن أبي واقد الليثي:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم بينما هو جالس في المسجد والناس معه، إذ أقبل ثلاثة نفر، فأقبل إثنان إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وذهب واحد، قال: فوقفا على رسول الله صلى الله عليه وسلم، فأما أحدهما: فرأى فرجة في الحلقة فجلس فيها، وأما الآخر: فجلس خلفهم، وأما الثالث فأدبر ذاهبا، فلما فرغ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (ألا أخبركم عن النفر الثلاثة؟ أما أحدهم فأوى إلى الله فآواه الله، وأما الآخر فاستحيا فاستحيا الله منه، وأما الآخر فأعرض فأعرض الله عنه). [462].
Ismail menceritakan kepadaku, beliau berkata, Malik menceritakan kepadaku, dari Ishak bin Abdullah bin Abi Tholhah sesungguhnya Abu Marrah budak dari Aqil bin Abi Thalib memberikan informasi kepadaku Dari Abi Waqid Al Laitsi r.a., dia berkata : “ Pada suatu waktu Rasulullah saw sedang duduk di masjid kemudianh datanglah tiga rombongan manusia, yang dua kelompok menghadap rasulullah saw, sedang yang satunya melihat tempat senggang dalam majelis itu, maka duduklah mereka. Sedangkan yang lain duduk di belakang mereka, sedangkan kelompok ketiga pergi dan berpaling. Setelah itu Rasulullah saw bersabda: “ Adakah belum aku beritahukan kepadamu tentang tiga kelompok manusia tersebut ?. adapun kelompok pertama adalah mencari keridhoan Allah swt, maka Allah ridho pula kepada mereka, adapun yang lainnya mereka malu kepada Allah, maka Allahpun malu kepada mereka. Sedangkan yang satunya lagi mereka berpaling dari keridhoan Allah, maka Allahpun berpaling dari mereka.     (HR. Bukhori, Bab Orang yang duduk ketika sampai kesuatu majelis, dan Orang yang melihat celah dalam halaqoh lalu ia duduk di dalamnya )
Hadis di atas menceritakan tentang keutamaan bermajelis ilmu, bahkan dalam hadis lain Rasulullah mensifati majelis ilmu dengan sebutan Riyadhul Jannah ( taman surga ). Dimanapun kita berada apabila kita lewat atau melihat halaqatul ilmi ( majelis ta’lim ) maka seyogyanya kita berhenti sejenak dan bergabung didalamnya dengan tujuan mencari ridho Allah swt, jika itu kita lakukan maka Allahpun akan Ridho terhadap kita. Subtansi hadis tersebut adalah merangsang para pencari ilmu agar mencintai majelis ta’lim, sekolah, kampus ataupun tempat-tempat ilmu lainnya.
Sekaligus larangan bagi kita untuk berpaling dari majelis ilmu, dengan kata lain bahwa pulang dari kampus ketika ada dosen adalah termasuk dalam kategori orang yang berpaling dari keridhoan Allah. Ketika kita berpaling dari keridhoan Allah maka Allahpun akan berpaling dari kita. Ketika Allah berpaling dari kita, siapa lagi yang kita harapkan akan memberikan pertolongan kepada kita ?. Wallahu a’lam.       
D.    PELAJARAN AYAT DAN KAITANNYA DENGAN SUBYEK PENDIDIKAN

        Pelajaran yang terkandung dalam dua ayat di atas, antara lain :
        1.      Wajib bertanya kepada orang yang berilmu bagi orang yang tidak tahu tentang urusan   agamanya, baik itu masalah akidah, ibadah, maupun hukum.
        2.      As-Sunnah merupakan kebutuhan mutlak, karena as-Sunnah menjelaskan secara rinci kandungan al-Qur’an yang bersifat global dan menjelaskan makna-maknanya. 

        Kaitannya dengan subyek pendidikan adalah bahwa orang-orang yang berilmu dan Rasulullah saw adalah sebagai pelaku pendidikan. Orang-orang yang berilmu harus menjawab pertanyaan orang-orang yang bertanya tentang urusan agamanya, baik dalam masalah akidah, ibadah maupun masalah hukum. Juga Rasulullah saw menjelaskan secara rinci kandungan al-Qur’an yang bersifat global, dan menerangkan makna-maknanya.
    
Dalam proses pendidikan diperlukan subyek atau pelaku pendidikan, subyek ini bisa berupa pendidik (yang memberikan pengajaran atau pendidikan) dan peserta didik (yang mendapat pengajaran atau pendidikan). Seperti terdapat dalam ayat diatas, Nabi Muhammad mendapat pelajaran dari Allah dan menyampaikan kepada umatnya, dalam hal ini posisi Nabi Muhammad sebagai peserta didik dan juga sebagai pendidik karena Nabi menerima pelajaran sekaligus juga menyampaikan dan mengajarkannya kepada umatnya. Selain itu kita juga diperintahkan untuk bertanya kepada orang lain tentang sesuatu yang belum diketahui, walaupun orang tersebut tidak beragama Islam selama itu dilakukan demi kebenaran.
Pendidik dan peserta didik sangat erat hubungannya, karena tanpa salah satu dari mereka maka proses pendidikan tidak akan berjalan. Dengan adanya proses pendidikan diharapkan siswa menangkap materi yang disampaikan oleh pendidik dengan baik dan mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan dalam kesehariannya.
           Untuk menjadi seorang pendidik yang baik maka harus mempunyai sifat-sifat seperti : Kasih sayang kepada peserta didik, lemah lembut, rendah hati, adil, konsekuen, perkataan sesuai dengan perbuatan, sederhana, dan menghormati ilmu yang bukan pegangannya.[7] Begitu pula sebaliknya seorang peserta didik juga harus mempunyai sikap tawadhu’, ulet, sabar dan tekun dalam menuntut ilmu.

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DAN SOLUSINYA
            Ada pepatah yang berbunyi “malu bertanya sesat dijalan”, pepatah ini sedikit tidak telah terjadi dalam pendidikan zaman sekarang. Kebanyakan orang malu ataupun enggan untuk bertanya mengenai masalah yang dihadapinya, lebih memilih bertindak tanpa dasar dari pada harus bertanya mengenai permasalahannya. Efeknya adalah kesesatanlah yang terjadi, beribadah tanpa berilmu, bertindak tanpa tahu sebab dan akibatnya.
            Jika melihat dari efek yang begitu dahsyat tersebut, maka haruslah ditata kembali semangat belajar-mengajar kepada pendidik maupun peserta didik. Ketika pelajar tidak memahami hal yang diajarkan, maka bertanyalah agar tidak tersesat (bingung). Begitu pula pendidik, ketika ditanya dan tidak tahu mengenai pertanyaan tersebut, maka diundurlah untuk menjawabnya agar bisa mencari tahu jawaban dari yang ditanyakan, tidak langsung asal menjawab tanpa ada dasarnya.


















BAB IV
SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF
TAFSIR SURAT AL-KAHFI :  66

Secara filosofi, pendidikan merupakan sebuah sistem yang memiliki aspek-aspek yang saling berhubungan, menurut A.D. Marimba (1989: 19-65), pendidikan adalah proses membimbing atau memimpin yang dilakukan secara sadar oleh pendidik untuk mengembangkan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Dalam proses membimbing atau memimpin tersirat dua pihak yang saling berhubungan, yaitu pendidik dan peserta didik. Selain itu, agar usaha dalam proses tersebut dapat mencapai tujuan pendidik, maka diperlukan landasan / dasar yang jelas serta alat dan badan / lembaga penyelenggaran pendidikan. Dengan demikian pendidikan terdiri dari beberapa aspek, yaitu : peserta didik, pendidik, dasar, tujuan, alat dan badan / lembaga pendidikan.
Berdasarkan keterangan tersebut, pendidik merupakan salah satu bagian integral dari sistem pendidikan. Pendidik atau yang layak disebut subyek pendidikan adalah orang yang terlibat secara langsung dan kontinyu dalam proses pendidikan. Dalam dunia pendidikan, yang lazim disebut pendidik adalah orang tua, guru dan para pemimpin (tokoh) masyarakat atau orang-orang yang telah dewasa. Orang tua berperan sebagai pendidik di lingkungan rumah tangga, guru sebagai pendidik di lingkungan sekolah. Walaupun peranan para pendidik ini berbeda tempatnya, tetapi tidak berarti mereka bekerja sendiri-sendiri. Semuanya harus dapat memainkan perannya masing-masing secara bertanggung jawab dalam kerangka kerjasama yang harmonis dan saling mendukung agar peserta didik memiliki kepribadian yang sempurna.
            Musa berkata kepada Khidhr:` Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? `(QS. 18:66)
:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul:: Surah Al Kahfi 66
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Dalam ayat ini Allah menyatakan maksud Nabi Musa as datang kepada Al Khidir, yaitu untuk berguru kepadanya. Nabi Musa memberi salam kepada Al Khidir berkata kepadanya: "Saya adalah Musa". Al Khidir bertanya: "Musa dari Bani Israel?" Musa menjawab: "Ya, benar! Maka Al Khidir memberi hormat kepadanya seraya berkata: "Apa keperluanmu datang kemari?" Nabi Musa menjawab, bahwa beliau datang kepadanya supaya diperkenankan mengikutinya dengan maksud supaya Al Khidir mau mengajarkan kepadanya sebagian ilmu yang telah Allah ajarkan kepada Al Khidir itu, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.
Dalam ayat ini Allah menggambarkan secara jelas sikap Nabi Musa sebagai calon murid kepada calon gurunya dengan mengajukan permintaan berupa bentuk pertanyaan itu berarti Nabi Musa sangat menjaga kesopanan dan mohon diperkenankan mengikutinya, supaya Al Khidir sudi mengajarkan sebagian ilmu yang telah Allah berikan kepadanya.
Sikap yang demikian menurut Al Qadi, memang seharusnya dimiliki oleh setiap pelajar      dalam mengajukan pertanyaan kepada gurunya.  
Keterangan-keterangan ini menunjukkan bahwa interaksi yang terjadi antara guru dan murid, harus berlangsung dalam suasana yang saling menghargai / menghormati. Sikap ini ditunjukkan oleh Nabi Musa belajar kepada Nabi Khidr a.s. sementara Nabi Musa a.s mempersilakan Nabi Musa a.s untuk ikut belajar dengannya. Sikap Nabi Musa a.s, ini merupakan cerminan kesopanan yang harus dilakukan oleh seorang peserta didik kepada gurunya. Sedangkan sikap Nabi Khidr a.s merupakan cerminan dari kesabaran dan sikap lapang dada dalam memberikan bimbingan / pengajaran.
            Dengan demikian, seorang mendidik harus memiliki kompetensi dan kepribadian yang luhur dalam proses pembelajaran, diantaranya ada lah dengan memiliki sikap sabar dalam menghadapi prilaku peserta didiknya. Jika sikap seperti ini dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, maka akan tercapai suasana yang kondusif terhadap upaya memperoleh hasil belajar yang berkualitas baik, salah satunya dengan menerapkan model pembelajara “PAKEM” (pembelajaran aktif, kreatif, efektif         danmenyenangkan).
           Ayat ke-66 ini menjelaskan bahwa ucapan Nabi Musa as. terhadap Nabi Khidir as. adalah ucapan yang lemah lembut (tanpa paksaan). Oleh karena itu wajib bagi seorang muta’allim (pelajar) apabila menanyakan sesuatu hal kepada mua’llim (guru) dengan ucapan yang lemah lembut. Kata attabi’uka ialah mengikuti dengan sungguh-sungguh.
            Pada ayat ke-67 ini sebagai jawaban Nabi Khidir as. bahwa Nabi Musa as. tidak akan sanggup mengikuti Nabi Khidir as. dengan alasan sudut pandang keilmuan yang berbeda. Nabi Khidir as. diberi ilmu yang sifatnya batiniyah (dalam) sedangkan Nabi
            Ayat 68 ini menegaskan kepada Nabi Musa as. tentang sebab Nabi Musa tidak akan bersabar nantinya kalau terus menerus menyertainya. Nabi Musa as. akan melihat kenyataan pekerjaan Nabi Khidir as. yang secara lahiriyah bertentangan dengan syariat Nabi Musa as. sehingga Nabi Musa as. mengingkarinya karena menganggap hal yang mustahil. Sedangkan secara batiniyah tidak mengetahui hikmahnya atau kemaslahatannya .
           Nabi Musa as. berjanji tidak akan mengingkari dan tidak akan menyalahi apa yang dikerjakan oleh Nabi Khidir, dan berjanji pula akan melaksanakan perintah Nabi Khidir selama perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah swt.
Selanjutnya dalam ayat 70 : Nabi Khidir as. dapat menerima Nabi Musa as. dengan syarat: “Jika kamu (Nabi Musa) berjalan bersamaku, maka janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang aku lakukan dan tentang rahasianya, sehingga aku sendiri menerangkan kepadamu duduk persoalannya. Jangan kamu menegurku terhadap sesuatu perbuatan yang tidak dapat kau benarkan hingga aku sendiri yang mulai menyebutnya       untuk   menerangkan             keadaan yang sebenarnya.

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DAN SOLUSINYA
Pelajaran berharga kita dapatkan lewat kisah nabi Khidir dan nabi Musa yang bisa kita jadikan acuan dalam proses belajar-mengajar. Nabi Musa ketika meminta untuk mengikuti dan belajar kepada nabi Khidir lewat pertanyaan, nabi Musa bertanya kepada nabi Khidir dengan kata-kata yang begitu halusnya dan nabi Khidirpun memberikan jawaban dengan jawaban yang halus pula.
Pendidikan masa kini kebanyakan tidak memperhatikan hal ini, pelajar bertanya kepada pendidik dengan kata-kata yang semaunya dan pendidikpun menjawab dengan jawaban yang seadanya. Maka disini perlulah bagi pendidik dan pelajar agar memperhatikan kisah nabi Khidir dan nabi Musa dalam proses belajar-mengajarnya.











BAB V
SIMPULAN
Dari uraian surat-surat diatas, dapat kami simpulkan beberapa hal yang berkaitan dengan subjek pendidikan.
Surat Ar-Rahman ayat 1 – 4 :
1.      Kata Ar-Rahman menunjukkan sifat-sifat pendidik adalah murah hati, penyayang dan lemah lembut, santun dan berakhlak mulia khususnya kepada peserta didik dan kepada masyarakat pada umumnya.
2.      Al-Quran merupakan sumber pendidikan Islam yang pertama dan utama, karena Al-Quran memiliki nilai absolut yang diturunkan dari Allah
3.      Tujuan utama dari pendidikan Islam adalah mencetak manusia yang sempurna, berilmu, berakhlak dan beradab.
4.      Ayat ini kaitannya dengan proses pendidikan adalah seorang guru apapun pelajaran yang disampaikan, sampaikanlah dengan sejelas-jelasnya, sampai pada tahap seorang siswa (subyek didik) benar-benar faham.
Surat An-Najm :
            Seorang guru itu harus mempunyai kekuatan, baik kekuatan secara jasmani maupun rohani. Kekuatan jasmani yakni berupa totalitas dalam mengajar, penampilan dan perilaku yang baik,karena perilaku kita akan dijadikan cerminan oleh murid-murid kita.
Surat An-Nahl 43 - 44 :
Q.S. An-Nahl ayat 43-44 terdapat hubungan yang sangart erat dengan pendidikan, khususnya tentang subyek pendidikan. Hal ini ditunjukkan dengan pengajaran yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril tentang ketauhidan dan sebagainya dan Allah menyuruh Nabi Muhammad untuk menyampaikannya kepada umatnya.
Subyek pendidikan meliputi pendidik dan peserta didik, keduanya merupakan suatu yang tidak dapat dipisahkan. Jika salah satu diantara keduanya tidak ada maka tidak akan terjadi proses pendidikan, sehingga tujuan pendidikan untuk mencapai insan kamil tidak akan dapat tercapai.

Surat Al-Kahfi 66 :
Seorang mendidik harus memiliki kompetensi dan kepribadian yang luhur dalam proses pembelajaran, diantaranya ada lah dengan memiliki sikap sabar dalam menghadapi prilaku peserta didiknya. Jika sikap seperti ini dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, maka akan tercapai suasana yang kondusif terhadap upaya memperoleh hasil belajar yang berkualitas baik, salah satunya dengan menerapkan model pembelajara “PAKEM” (pembelajaran aktif, kreatif, efektif   danmenyenangkan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar